AKSARALOKA.COM, PONTIANAK – Plt. Kepala UPT Museum Provinsi Kalimantan Barat, Ryan Almunthahar, mendorong masyarakat untuk terus mempromosikan dan melestarikan Corak Insang, motif khas Melayu Kalimantan Barat yang menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah.
Menurutnya, Corak Insang bukan sekadar ornamen visual, melainkan simbol sejarah dan jati diri masyarakat Melayu yang tumbuh di tepian Sungai Kapuas.
Ryan menegaskan bahwa museum memiliki peran strategis dalam menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
“Pelestarian Corak Insang tidak hanya tentang menjaga motif kain, tetapi juga menjaga cerita, filosofi, dan identitas masyarakat Kalimantan Barat,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).
Hal senada disampaikan Sy. Faisal, yang menilai Corak Insang sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah dan filosofi mendalam. Ia menyebut motif ini sebagai simbol kehidupan masyarakat sungai yang tidak terpisahkan dari alam dan budaya.
“Corak insang merupakan jejak budaya Melayu yang menyatukan Kalimantan Barat. Bukan sekadar motif kain, ia adalah napas kehidupan, jejak sungai, tangan pengrajin, dan warisan budaya yang harus kita jaga,” ungkapnya.
Motif Corak Insang terinspirasi dari bentuk insang ikan, yang melambangkan napas, sumber kehidupan, dan keberlangsungan hidup masyarakat yang hidup di sepanjang Sungai Kapuas.
Jika dahulu hanya digunakan oleh kalangan bangsawan Melayu, kini Corak Insang telah berkembang menjadi identitas budaya yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan generasi.

















