banner 468x60
Museum Kalbar

Tundang Masuk Progam Workshop Edukasi Kultural Museum Kalbar

×

Tundang Masuk Progam Workshop Edukasi Kultural Museum Kalbar

Sebarkan artikel ini

AKSARALOKA.COM, PONTIANAK – UPT Museum Provinsi Kalimantan Barat terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya daerah melalui kegiatan edukatif dan partisipatif. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Edukasi Kultural: Tundang.

Workshop ini secara resmi dibuka oleh Plt. Kepala UPT Museum Provinsi Kalimantan Barat, Ryan Almunthahar, S.STP., M.A.P, yang menegaskan bahwa Tundang merupakan salah satu kekayaan budaya Kalimantan Barat yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tundang bukan sekadar syair, ia adalah tradisi lisan penuh irama dan makna. Di dalamnya terkandung pesan moral, nilai budaya, serta identitas masyarakat Kalimantan Barat,” ujar Ryan, Rabu (17/12/2025).

Tundang dikenal sebagai salah satu bentuk tradisi lisan khas Kalimantan Barat, yang disampaikan melalui syair berirama dan sarat makna. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nasihat, kritik sosial, dan nilai-nilai kehidupan yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam workshop tersebut menghadirkan tiga narasumber istimewa yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam bidang budaya dan pendidikan, yakni Sucipto, Peri Rakhmadi, S.Pd., M.MSH, serta Ferri Nata Wardani, S.Pd. Ketiganya memberikan pemaparan mendalam mengenai sejarah, perkembangan, serta teknik penyampaian Tundang dalam konteks budaya Kalimantan Barat.

Peserta workshop yang terdiri dari tenaga pengajar dan seniman diajak untuk menggali lebih dalam tentang Tundang, mulai dari mengenal akar sejarah dan fungsi sosialnya, hingga mempraktikkan secara langsung syair Tundang. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam menghidupkan tradisi lisan tersebut.

Ryan Almunthahar menyampaikan bahwa keterlibatan guru dan seniman dalam workshop ini sangat penting, karena mereka memiliki peran strategis dalam meneruskan pengetahuan budaya kepada masyarakat luas.

“Tenaga pengajar dan seniman adalah jembatan pewarisan budaya. Dengan memahami dan mempraktikkan Tundang, mereka dapat menyuarakan kembali tradisi ini di ruang-ruang pendidikan dan seni,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak budaya, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi kebudayaan, tempat tradisi lisan seperti Tundang dapat terus dipelajari, dipraktikkan, dan dikembangkan.

Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian program Museum Kalbar dalam memperkuat literasi budaya dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian warisan tak benda. Melalui kegiatan ini, museum berharap Tundang tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

“Melalui museum, mari terus jaga warisan budaya. Budaya akan tetap hidup jika kita terus menyuarakannya,” tutup Ryan.

Dengan terselenggaranya workshop ini, UPT Museum Provinsi Kalimantan Barat kembali menegaskan perannya sebagai pusat edukasi budaya yang aktif dan inklusif, sekaligus sebagai penjaga keberlanjutan tradisi lisan Kalimantan Barat agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.