AKSARALOKA.COM, PONTIANAK – Museum Provinsi Kalimantan Barat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana edukasi budaya dan sejarah. Inovasi ini dilakukan agar museum tetap relevan di tengah perubahan pola belajar masyarakat, khususnya generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi.
Plt. Kepala UPT Museum Provinsi Kalimantan Barat, Ryan Almunthahar, mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi digital memungkinkan museum menjangkau masyarakat yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak dapat berkunjung langsung ke museum di Pontianak.
“Teknologi menjadi jembatan agar museum tetap relevan di era digital. Generasi muda bisa mengakses edukasi sejarah kapan saja dan di mana saja,” ujar Ryan, Jumat (19/12/2025).
Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan adalah galeri virtual, yang menampilkan koleksi museum dalam format digital. Melalui galeri ini, pengunjung dapat melihat artefak sejarah, benda budaya, dan koleksi etnografi Kalimantan Barat secara daring, lengkap dengan penjelasan narasi sejarahnya.
Selain itu, museum juga menghadirkan berbagai konten edukatif online, seperti video pembelajaran, foto koleksi, dan informasi budaya yang dapat diakses melalui platform digital.
Ryan menjelaskan bahwa pendekatan digital ini dirancang untuk melengkapi kunjungan fisik ke museum, bukan menggantikannya. Dengan teknologi, masyarakat dapat memperoleh gambaran awal tentang koleksi museum sebelum datang langsung, atau tetap belajar meski terkendala jarak dan waktu.
“Digitalisasi ini membantu masyarakat mengenal budaya Kalbar secara lebih fleksibel. Bagi pelajar dan mahasiswa, konten online ini juga bisa menjadi sumber belajar pendukung,” jelasnya.
Inisiatif ini membuka peluang besar bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum di seluruh Kalimantan Barat untuk mengeksplorasi budaya daerah secara interaktif.
Materi digital yang disajikan tidak hanya berfokus pada tampilan visual, tetapi juga mengedepankan nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap koleksi.
Selain memperluas akses edukasi, pemanfaatan teknologi digital juga diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai warisan budaya daerah.
Dengan pendekatan yang lebih modern dan mudah diakses, museum berupaya menjawab tantangan pelestarian budaya di era digital.
“Kami berharap teknologi ini dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan budaya Kalimantan Barat. Ketika ketertarikan sudah tumbuh, kami yakin mereka akan lebih peduli terhadap pelestarian budaya,” pungkas Ryan.
Melalui inovasi digital ini, Museum Provinsi Kalimantan Barat menegaskan perannya sebagai pusat edukasi budaya yang adaptif dan inklusif, sekaligus memperkuat komitmen dalam menjaga dan menyebarluaskan warisan budaya daerah kepada masyarakat luas, baik di tingkat lokal maupun nasional.

















