banner 468x60
Melawi

Ratu Madu Borneo dan Harapan dari Sarang Kelulut Desa Tanjung Lay

×

Ratu Madu Borneo dan Harapan dari Sarang Kelulut Desa Tanjung Lay

Sebarkan artikel ini

AKSARALOKA.COM, MELAWI – Pagi di Desa Tanjung Lay, Kilometer Lima, masih menyisakan embun ketika deretan kotak kayu tersusun rapi di bawah rindang pepohonan.

Dari celah-celah kecil itulah lebah kelulut keluar masuk tanpa dengung keras, bekerja senyap seperti alam yang tak suka pamer. Di tempat inilah “Ratu Madu Borneo” tumbuh pelan, konsisten, dan manis.

Minggu itu, langkah kaki berbeda terdengar di antara barisan log sarang. Kapolres Melawi AKBP Harris Batara Simbolon berkunjung.

Bukan ke ruang rapat, bukan pula ke lapangan apel, melainkan ke sebuah peternakan lebah.

Didampingi Kasat Lantas Polres Melawi AKP Pipit Supriyatna, ia menyusuri area budidaya, mengamati satu per satu sarang kelulut yang tampak sederhana, namun menyimpan nilai ekonomi dan kesehatan yang tidak sederhana.

Sesekali Kapolres berhenti. Mendekat. Bertanya. Mendengarkan penjelasan pemilik peternakan, Edward Ruslan Gea, yang akrab disapa H. Edu.

Dari tangan-tangan terampil itulah madu kelulut dipanen, diteteskan perlahan dari log sarang. Warna madu kecokelatan, teksturnya cair, aromanya lembut.

Kapolres mencicipinya. Senyum tipis pun muncul. Manisnya tidak menyengat, namun meninggalkan rasa segar di tenggorokan.

H. Edu menuturkan, usaha ini ia rintis sejak 2021. Bermula dari beberapa log sarang, kini jumlahnya telah mencapai sekitar dua ratus.

Ratu Madu Borneo membudidayakan empat jenis kelulut, yakni Thoracica, Itama, Apicalis, dan Caniforn. Panen dilakukan sebulan sekali secara bergantian, agar koloni tetap lestari dan produktif.

“Kelulut ini unik,” ujar H. Edu. “Tidak perlu pakan tambahan. Mereka hidup dari alam. Kalau lingkungannya sehat, madunya juga sehat.”

Pasarnya pun tak lagi sebatas Melawi. Madu kelulut dari desa ini telah menyeberang ke Pulau Jawa, bahkan melintasi benua hingga Australia, Swedia, dan Belgia.

Selain madu, bee pollen hasil budidaya juga menjadi komoditas bernilai, menambah sumber penghasilan dari usaha kecil yang tumbuh dari desa.

Bagi AKBP Harris Batara Simbolon, kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi.

Ia melihat potensi besar. Madu kelulut, menurutnya, bukan hanya produk ekonomi, tetapi juga sumber kesehatan. Polres Melawi, ujarnya, siap menjajaki kerja sama agar madu kelulut dapat dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran personel.

Dari sisi pemasaran, dukungan juga akan didorong melalui Koperasi Polres Melawi.

“Kami ingin produk lokal seperti ini mendapat tempat. Anggota sehat, masyarakat terbantu, ekonominya bergerak,” ujarnya.

Di tengah sunyi dengung kelulut yang nyaris tak terdengar, harapan itu terasa masuk akal.

Bahwa dari log kayu sederhana di Desa Tanjung Lay, bisa lahir manis yang bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menguatkan ekonomi warga.

Dan bahwa perhatian negara, kadang, cukup datang dengan langkah kaki yang mau berhenti, melihat, dan mencicipi hasil kerja rakyatnya.