SAMBAS – Panen melimpah tak selalu berujung kesejahteraan. Di Dusun Sawah, Desa Sanatab, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, sekitar satu ton buah langsat milik warga terbuang sia-sia karena tak terserap pasar. Buah yang biasanya menjadi sumber penghasilan, tahun ini justru membusuk di tanah.
Lambertus (55), salah seorang petani langsat, hanya bisa memandangi buah-buah yang berguguran di bawah pohon. Sekitar 20 batang pohon langsat miliknya berbuah lebat dan matang hampir bersamaan. Namun, melimpahnya hasil panen tidak diikuti kehadiran pembeli.
“Buahnya banyak sekali. Kalau dihitung-hitung, bisa sampai satu ton,” ujar Lambertus.
Ia mengatakan, banjir langsat yang terjadi di wilayah Sajingan Besar membuat harga anjlok hingga tak bernilai. Pasar sepi, pembeli tak datang, dan upaya menjual hasil panen pun berakhir tanpa hasil.
Akibatnya, sebagian kecil buah hanya dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dibiarkan jatuh dan membusuk di tanah. Kondisi ini menjadi ironi bagi petani yang menggantungkan harapan pada musim panen.
Lambertus membandingkan dengan kondisi tahun lalu. Saat itu, buah langsat masih memiliki nilai jual. Harga per kilogram bisa mencapai Rp10 ribu, dan hasilnya cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Tahun lalu masih ada harga. Sekarang sama sekali tidak ada. Sedih melihat hasil alam terbuang seperti ini,” katanya.
Menurut Lambertus, situasi tersebut tidak hanya dialaminya seorang diri. Warga lain di Desa Sanatab juga menghadapi nasib serupa. Pohon-pohon langsat milik warga berbuah serentak, namun tanpa dukungan akses pasar, hasil panen tak terserap.
Ia menilai, persoalan utama bukan pada produksi, melainkan pada ketiadaan pembeli dan sistem pemasaran. Tanpa adanya penampung atau jalur distribusi, panen melimpah justru berubah menjadi kerugian.
“Kami berharap ke depan ada perhatian, ada pembeli yang bisa menampung. Supaya hasil kebun ini tidak kembali terbuang percuma,” pungkasnya.














