banner 468x60
Pontianak

Pastikan Kualitas Baik, SPPG Sungai Jawi 5 Lakukan Quality Control Ketat

×

Pastikan Kualitas Baik, SPPG Sungai Jawi 5 Lakukan Quality Control Ketat

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK — SPPG Sungai Jawi 5 konsisten melakukan pengawasan mutu (quality control) secara ketat dalam proses penyediaan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan siswa di Pontianak.

Kepala SPPG Sungai Jawi 5, Faical, menuturkan bahwa pihaknya saat ini memproduksi dan mendistribusikan sebanyak 1.515 paket makanan atau ompreng setiap hari. Jumlah tersebut menyesuaikan pembagian wilayah layanan seiring bertambahnya dapur baru dalam program MBG.

Proses persiapan makanan telah dimulai sejak pukul 19.00 WIB. Tim dapur terlebih dahulu mencuci bahan dan melakukan thawing ayam, sembari menyiapkan sayur-mayur yang membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama.

“Jam 7 malam kami sudah mulai. Ayam di-thawing dulu, sambil itu tim siapkan sayur. Sayur itu paling lama pengerjaannya,” jelas Faical.

Saat ini pekerjaan pemotongan sayur telah dibantu mesin, termasuk mesin pemotong wortel. Sebelum menggunakan alat tersebut, proses persiapan sayur dapat berlangsung hingga pukul 01.00–02.00 dini hari.

Untuk memasak nasi, proses dimulai sekitar pukul 01.00 WIB. Dalam sehari, dapur mengolah sekitar 120 kilogram beras menggunakan 24 loyang besar. Tahap pengemasan dilakukan mulai pukul 04.00 WIB setelah dilakukan penghitungan jumlah ompreng sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.

“Biasanya benar-benar mulai packing itu jam 5 pagi supaya tidak terjadi kesalahan distribusi,” katanya.

Menu Disusun Bersama Ahli Gizi

Dalam penyusunan menu, SPPG bekerja sama dengan ahli gizi dan mitra penyedia bahan. Menu disusun mingguan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan, harga pasar, serta waktu pengolahan.

Mayoritas menu menggunakan ayam sebagai sumber protein hewani karena dinilai paling disukai anak-anak, terutama jenjang TK. Sementara itu, makanan bersantan dihindari untuk mencegah risiko cepat basi.

Sayuran diolah dengan cara ditumis, direbus, atau dibuat sup. Buah diberikan dalam bentuk potong atau buah utuh seperti jeruk, menyesuaikan anggaran dan efisiensi waktu.

Pemenuhan gizi mengacu pada prinsip gizi seimbang sesuai pedoman Kementerian Kesehatan.

“Susu ada, tapi sekarang sedang mahal dan sulit didapat. Jadi kami sesuaikan tetap dengan standar gizi seimbang,” ujarnya.

Faical menjelaskan bahwa anggaran Rp15.000 per ompreng tidak seluruhnya digunakan untuk bahan makanan. Dari jumlah tersebut, masing-masing Rp2.000 dialokasikan untuk operasional dan sewa dapur bersama mitra.

“Harga itu sudah termasuk biaya pendukung produksi, bukan dipotong belakangan,” jelasnya.

Jangkau Sekolah dan Posyandu

Selain didistribusikan ke sekolah, makanan juga disalurkan ke posyandu bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Saat ini terdapat 321 penerima manfaat di posyandu, menurun dari sebelumnya lebih dari 550 orang.

Distribusi dilakukan setiap Senin dan Kamis. Pada awal pekan, ompreng dikirim bersamaan dengan paket makanan kering untuk kebutuhan dua hari berikutnya. Pengiriman kembali dilakukan pada Kamis.

Sebelum distribusi, tim melakukan pendataan langsung dan berkoordinasi dengan kader posyandu untuk memastikan ketepatan sasaran.

Pengawasan Berlapis dari Dapur hingga Sekolah

Faical menegaskan bahwa pengawasan mutu dilakukan berlapis, mulai dari pemeriksaan bahan baku hingga makanan diterima siswa. Setiap bahan yang datang dicek kondisi fisik, warna, dan bau. Jika tidak layak, bahan langsung diganti, bahkan harus mencari ke pasar pada malam hari.

“Kalau bahan jelek, kami tidak pakai. Jangan sampai dipaksakan distribusi,” tegasnya.

Sebelum makanan dikirim, dilakukan uji organoleptik serta pengecekan oleh ahli gizi. Setelah tiba di sekolah, sampel makanan kembali diperiksa oleh guru dan penanggung jawab setempat.

Pengantaran dilakukan maksimal satu jam sebelum waktu makan, dengan toleransi keamanan makanan hingga enam jam sejak selesai produksi, selama prosedur distribusi dipatuhi.

Dirasakan Manfaatnya oleh Sekolah dan Siswa

Salah satu penerima manfaat adalah SD Bruder Pontianak. Pihak sekolah menilai program MBG membantu siswa sekaligus meringankan beban orang tua.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Magdalena Sajumiati, mengatakan menu yang disajikan bervariasi dan disukai siswa.

“Kami sangat terbantu dengan MBG. Orang tua tidak lagi repot menyiapkan bekal, dan anak-anak juga menikmati makanannya,” ujarnya.

Sebelum dibagikan kepada siswa, guru terlebih dahulu mencicipi sampel makanan untuk memastikan kualitas dan kesegarannya.

Sementara itu, Yemima, siswi kelas VI, mengaku senang dengan program tersebut karena makanan yang disajikan enak dan membuatnya bisa menghemat uang jajan.

“Makanannya enak-enak. Kalau ada sisa boleh tambah, jadi uang bekal bisa ditabung,” katanya.

Dengan persiapan sejak malam, pengawasan bahan baku yang ketat, serta koordinasi bersama sekolah dan posyandu, SPPG Sungai Jawi 5 berupaya memastikan setiap paket makanan diterima dalam kondisi aman, layak konsumsi, dan sesuai standar gizi.

Penulis: TERI