banner 468x60
Pontianak

Wali Kota Pontianak Tinjau Harga Bapok di Pasar Puring, Pastikan Harga Stabil

×

Wali Kota Pontianak Tinjau Harga Bapok di Pasar Puring, Pastikan Harga Stabil

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, meninjau langsung harga dan ketersediaan bahan pokok di Pasar Puring, Jumat (13/3/2026) pagi.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia dan harga di pasar tradisional tetap stabil menjelang Hari Raya Idulfitri.

Edi mengatakan secara umum harga sejumlah komoditas di Pasar Puring masih relatif terkendali, meskipun ada beberapa bahan pokok yang mengalami kenaikan.

“Beberapa komoditas memang ada yang naik, seperti cabai rawit yang saat ini sekitar Rp90 ribu per kilogram. Namun kenaikannya masih bertahap dan masih dalam batas yang bisa dipantau,” ujarnya.

Selain cabai rawit, harga daging ayam berada di kisaran Rp36 ribu hingga Rp37 ribu per kilogram. Sementara itu, hasil laut seperti sotong dan udang dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram. Harga telur juga relatif stabil di kisaran Rp35 ribu per kilogram, hampir sama dengan harga di sejumlah pasar lainnya di Pontianak.

Menurut Edi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa langkah intervensi yang dilakukan Pemerintah Kota Pontianak dalam menjaga stabilitas harga sejauh ini berjalan cukup efektif.

“Kenaikan harga masih dalam kategori standar. Artinya intervensi yang selama ini kita lakukan cukup berhasil,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan potensi kenaikan harga tetap ada, terutama menjelang Idulfitri. Karena itu, Pemkot Pontianak menyiapkan berbagai langkah antisipasi.

Salah satunya melalui pelaksanaan pasar murah yang digelar bersama berbagai pihak, termasuk kepolisian dan sejumlah BUMN, guna membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.

Selain memantau harga, Edi juga meninjau kondisi fasilitas pasar. Ia menyebutkan Pemkot Pontianak berencana melakukan revitalisasi Pasar Puring pada tahun ini.

“Saat ini perencanaannya sedang dalam tahap finalisasi. Revitalisasi ini bertujuan meningkatkan kualitas pasar agar lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung,” jelasnya.

Menurutnya, pasar tersebut sudah cukup lama tidak mengalami perbaikan, dengan rehabilitasi terakhir dilakukan sekitar delapan tahun lalu. Penataan ulang juga akan dilakukan, termasuk pengaturan ruang bagi pedagang kaki lima (PKL).

“Kita akan menata kembali agar lebih tertib. Pedagang nyaman berjualan, masyarakat juga lebih nyaman saat berbelanja,” ujarnya.

Sementara itu, seorang pedagang daging di Pasar Puring, Deddy Junaidi (42), mengatakan permintaan daging saat ini cukup baik, terutama untuk kebutuhan bakso.

“Permintaan lumayan banyak, terutama untuk bakso. Banyak yang membeli daging untuk digiling,” katanya.

Ia menjelaskan, harga daging sapi beku saat ini sekitar Rp140 ribu per kilogram, sedangkan daging sapi lokal sekitar Rp160 ribu per kilogram. Sebelumnya, harga daging beku masih berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram dan daging lokal sekitar Rp150 ribu per kilogram.

Menurut Deddy, jenis daging yang paling banyak dicari pembeli adalah daging untuk bahan bakso karena permintaannya relatif stabil.

Meski demikian, ia berharap harga dari pemasok tidak terus meningkat agar pedagang tetap memperoleh keuntungan yang wajar.

“Harapannya harga daging jangan terlalu mahal. Kalau kami mengambilnya sudah mahal, keuntungan jadi kecil,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi pasar, khususnya terkait penataan dan fasilitas. Menurutnya, area luar pasar saat ini masih sempit, terutama untuk lahan parkir, serta dipenuhi pedagang kaki lima sehingga ruang menjadi terbatas.

“Sepertinya memang perlu direnovasi. Di luar itu terlalu sempit, terutama untuk parkir. Selain itu juga banyak pedagang kaki lima,” tuturnya.

Deddy berharap jika renovasi dilakukan, penataan fasilitas seperti area parkir dapat diperbaiki sehingga memberikan kenyamanan bagi pedagang maupun pengunjung pasar.