Aksaraloka.com, PONTIANAK — Kemenangan Veddriq Leonardo di ajang World Climbing Series Chamonix 2026 tidak hanya menjadi torehan medali emas biasa.
Di balik podium tertinggi yang berhasil diraihnya pada nomor speed putra, tersimpan kisah perjuangan emosional yang luar biasa dari sang Manusia Kilat asal Pontianak tersebut.
Dalam wawancara langsung usai upacara penyerahan medali, Veddriq tampak tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya.
Medali emas ini menjadi sangat krusial mengingat ini merupakan podium tertinggi pertamanya setelah penantian yang cukup panjang sejak penampilannya di Olimpiade dalam cabang olahraga panjat tebing.
“Saya merasa luar biasa, saya sangat bersyukur karena sejujurnya ini adalah medali emas pertama saya setelah Olympic Games. Ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan saya sangat bahagia,” ungkap Veddriq dengan napas yang masih memburu usai laga.
Ia juga tidak lupa menyampaikan apresiasi terdalamnya kepada seluruh pihak yang terus mendampingi masa-masa sulitnya.
“Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya, dan untuk tim saya Tim Indonesia, kalian semua hebat. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi, saya benar-benar bahagia,” lanjutnya sembari melempar senyum lebar.
Perjalanan Veddriq menuju takhta juara di Chamonix tahun ini dipenuhi keraguan.
Sebelum kompetisi dimulai, Veddriq sempat melalui fase emosional pasca-babak kualifikasi karena ia harus bertanding di tengah badai cedera serta rentetan hasil minor di kompetisi-kompetisi sebelumnya.
Bahkan, ia mengaku datang ke Chamonix hampir tanpa persiapan menyentuh dinding panjat akibat proses pemulihan cedera.
“Kemenangan ini adalah sesuatu yang sangat berarti bagi saya, karena saya datang ke setiap kompetisi belakangan ini tanpa latihan yang layak. Saya tidak memanjat karena cedera,” jelas Veddriq secara terbuka.
Ia menceritakan bahwa situasi sulit tersebut sudah ia rasakan sejak kompetisi di Madrid dan Krakow.
Hingga tiba di Chamonix pun, ia belum bisa berlatih secara optimal.
Namun, modal tekad keras dan mental juara membuatnya mampu mencatatkan waktu fantastis 4,8 detik di babak kualifikasi hingga akhirnya keluar sebagai juara di partai puncak.
“Di kompetisi Madrid, Krakow, bahkan di sini (Chamonix) saya tidak berlatih, seperti tidak menyentuh dinding sama sekali. Tapi saya mencoba memberikan yang terbaik… dan bisa mencatatkan waktu 4,8 (detik) di kualifikasi adalah sebuah pencapaian besar bagi saya. Saya sangat bersyukur atas pencapaian ini,” tutupnya.
Keberhasilan di Chamonix 2026 ini menjadi bukti sahih betapa tangguhnya mentalitas atlet panjat tebing Indonesia di level dunia, di mana keterbatasan fisik akibat cedera mampu ditumbangkan oleh kedisiplinan dan semangat juang yang tinggi.











