banner 468x60
Aksara Landak

Target LTT Padi di Landak Naik 20 Persen, Karolin Soroti Ancaman Kekeringan Dampak El Nino

×

Target LTT Padi di Landak Naik 20 Persen, Karolin Soroti Ancaman Kekeringan Dampak El Nino

Sebarkan artikel ini

LANDAK – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menyoroti tingginya target Luas Tambah Tanam (LTT) Kabupaten Landak pada 2026 yang mencapai 92.625 hektar.

Target tersebut meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan target tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan Karolin saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT), Calon Petani Calon Lahan (CPCL), dan Sosialisasi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Barat, di Aula Besar Kantor Bupati Landak, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Barat Anjar Suprapto, Pinwil Perum Bulog Kanwil Kalbar, perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, BPS Landak, serta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kabupaten Landak.

Karolin mengatakan, target LTT Landak tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 166/KPTS/PW.020/M/02/2026.

“Target Luas Tambah Tanam selama satu tahun sebesar 92.625 hektar. Ini memang target yang saya tanya ke Pak Anjar, kok tambah banyak? Ternyata lebih dari 20 persen lebih tinggi target kita dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Karolin.

Target tersebut terdiri dari LTT reguler seluas 80.717 hektar, LTT cetak sawah 500 hektar, dan LTT padi gogo 11.408 hektar.

Realisasi LTT baru 82,98 persen

Karolin menjelaskan, untuk periode Januari hingga September 2026, sasaran tanam yang diusulkan Kabupaten Landak mencapai 54.598 hektar.

Berdasarkan data per 20 September 2026, realisasi LTT telah mencapai 45.308 hektar atau sekitar 82,98 persen dari sasaran tanam yang diusulkan.

Menurut Karolin, capaian tersebut masih perlu dikejar hingga akhir tahun.

“Kalau pun enggak bisa 100 persen, ya enggak jauh-jauh amat dari target,” ujarnya.

Namun, ia menilai percepatan LTT tidak cukup hanya dengan mengejar luasan lahan yang ditanam. Ketersediaan lahan siap tanam, air, benih, pupuk, serta sarana dan prasarana pertanian juga harus dipastikan.

“Yang sudah ditanam saja belum tentu panen. Apalagi enggak ditanam, kan enggak mungkin muncul dari, turun dari langit,” kata Karolin.

Ia mengingatkan, produksi pangan akan berpengaruh terhadap ketersediaan pangan masyarakat dan harga komoditas.

“Kalau panen turun, sudah pasti harga naik,” lanjutnya.

Padi gogo terkendala minim hujan

Salah satu tantangan yang menjadi perhatian Karolin adalah pencapaian target LTT padi gogo yang ditetapkan sebesar 11.408 hektar.

Menurut dia, realisasi padi gogo masih jauh dari target karena sebagian petani masih menunggu hujan sebelum melakukan penanaman.

Karolin mengatakan, sejumlah petani sebenarnya telah membuka dan menyiapkan lahan. Namun, kondisi tanah yang kering membuat mereka belum berani menanam.

Ia juga menemukan tanaman padi gogo yang sudah ditanam di sejumlah wilayah tidak tumbuh dengan baik akibat kondisi cuaca.

“Sudah dibuka lahannya, sudah disiapkan. Tapi belum bisa nanam karena memang belum hujan, mereka enggak akan berani,” ujarnya.

Karolin berharap sisa waktu hingga akhir tahun dapat dimanfaatkan untuk mengejar target LTT, terutama ketika kondisi cuaca mulai mendukung kegiatan penanaman.

Khawatir kemarau berlanjut hingga Januari

Selain persoalan padi gogo, Karolin juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi cuaca yang masih kering.

Ia menyebut adanya informasi mengenai kemungkinan kondisi El Nino yang berlanjut hingga Januari 2027.

Karolin mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dalam rapat bersama organisasi perangkat daerah (OPD), hujan diperkirakan mulai turun pada Oktober. Namun, curah hujan belum tentu langsung optimal.

“November itu awalnya diperkirakan sudah akan mulai hujan cukup deras. Tetapi karena situasi ini terus dimonitor oleh BMKG dan para saintis, ada kemungkinan bahwa curah hujan itu belum akan normal betul sampai dengan Januari,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Karolin, tidak hanya berpengaruh terhadap pertanian, tetapi juga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Landak saat ini telah menyalurkan air bersih kepada masyarakat di wilayah yang sumber airnya mulai mengering.

“Kalau kering benar sampai Januari, waduh saya juga pusing. Air bersih saja kita sudah harus bagi ke masyarakat tiap hari,” ujar Karolin.

Pemkab siapkan pompa dan perbaikan irigasi

Dalam menghadapi potensi kekeringan, Karolin mengatakan Pemkab Landak telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan mendapatkan bantuan pompa.

Selain itu, sejumlah saluran irigasi tersier juga terus dibenahi agar sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengairi sawah.

Namun, upaya tersebut lebih ditujukan untuk lahan sawah. Sementara untuk padi gogo, petani masih sangat bergantung pada curah hujan.

Sementara Kepala BRMP Kalimantan Barat Anjar Suprapto mengatakan, bantuan untuk mengantisipasi kekeringan telah diberikan, meskipun jumlahnya masih terbatas sehingga belum seluruh kebutuhan dapat direalisasikan.

“Namun memang dengan keterbatasan dari jumlah unit bantuan tersebut dan prioritas, maka tidak semua bisa kita realisasikan,” kata Anjar.

Ia mengatakan, pemerintah juga akan terus memantau jadwal tanam dan memastikan sarana produksi pertanian tersedia ketika kondisi mulai memungkinkan untuk penanaman.

“Misalnya di bulan Oktober ada hujan sedikit, kita upayakan di situ bisa kita dorong untuk tanam,” ujarnya.

PPL diminta laporkan kondisi riil di lapangan

Anjar juga meminta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk berperan aktif menyampaikan kondisi aktual di wilayah masing-masing.

Menurut dia, Kabupaten Landak saat ini telah menerapkan pola satu desa satu penyuluh.

PPL diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi hujan, perkembangan penanaman, hingga ketersediaan sarana produksi pertanian.

“Contohnya misalnya sudah ada hujan, sudah mulai tanam, saprodi sudah datang. Itu kita pastikan supaya nanti program atau upaya kita bisa tepat sasaran dan tepat waktu,” katanya.

Dijelaskannya rapat koordinasi tersebut sekaligus menjadi forum konsolidasi penyuluh untuk melakukan monitoring dan evaluasi berbagai program Kementerian Pertanian di Kabupaten Landak.

Selain membahas CPCL dan realisasi program, pertemuan tersebut juga diarahkan untuk menampung usulan dari petani, kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), koperasi pertanian, dan pemangku kepentingan lainnya.

Pemerintah berharap koordinasi tersebut dapat mempercepat pelaksanaan program pertanian sekaligus mengoptimalkan potensi lahan dan sumber daya pertanian di Kabupaten Landak.