AKSARALOKA.COM, PONTIANAK – Paruu Tambe, perahu hias tradisional khas Suku Dayak Taman dan Tamambaloh di Kalimantan Barat, bukan sekadar karya seni budaya, melainkan simbol perjalanan hidup manusia yang sarat makna spiritual.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Sy. Faisal Indahmawan Alkadri, S.STP, M.M, menanggapi pentingnya pelestarian tradisi lokal di tengah derasnya arus modernisasi, 9 September 2025.
Menurut Faisal, Paruu Tambe merupakan bagian penting dalam berbagai ritual adat, terutama ritual kematian dan perkawinan. Dalam ritual kematian, Paruu Tambe digunakan untuk mengantar jenazah ke tempat pemakaman (kulambu) serta prosesi buang pantang dan mimber sebagai bentuk pembersihan dan penghormatan terakhir. Sementara dalam ritual perkawinan, perahu hias tersebut menjadi sarana mengantar mempelai laki-laki dan keluarganya menuju rumah mempelai perempuan.
“Paruu Tambe bukan sekadar alat transportasi air, melainkan sarana simbolis yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang tinggi. Ia melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta, serta kebersamaan dan doa agar setiap upacara adat berjalan lancar,” ujar Faisal.
Perahu hias ini dibuat dari kayu dan dipenuhi ornamen seperti bendera bermotif (tambe), kain bermotif, daun enau, panggar, dedaunan, serta berbagai aksesori yang masing-masing memiliki makna khusus. Warna merah dan kuning pada panji misalnya, melambangkan keberanian dan keturunan baik, sementara daun enau menjadi simbol kejayaan dan kegembiraan.
Keberadaan Paruu Tambe juga dijaga dengan ketat melalui sejumlah larangan adat, seperti tidak bolehnya membawa pulang papanyi dan daun tuak dari prosesi pemakaman, agar roh tidak mengikuti keluarga kembali dari kuburan.
Faisal menegaskan bahwa proses pembuatan Paruu Tambe dilakukan melalui gotong-royong seluruh komunitas, sehingga tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan identitas budaya.
“Tradisi ini harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi muda. Pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga menjaga nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah provinsi terus mendorong pengakuan dan promosi budaya lokal melalui program pelestarian warisan tak benda dan kegiatan edukasi publik.
“Paruu Tambe adalah kekayaan budaya Kalimantan Barat yang patut dibanggakan. Ini bukan sekadar simbol masyarakat Dayak, tetapi juga aset budaya Indonesia,” tutup Faisal.















