Aksaraloka com, SAMBAS – Upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme di kalangan pelajar terus digencarkan melalui pendekatan edukatif.
Sebanyak sekitar 150 pelajar SMK Negeri 1 Pemangkat mengikuti sosialisasi bertema “Kenali, Tolak, dan Cegah Radikalisme di Kabupaten Sambas” yang digelar di Aula SMKN 1 Pemangkat, Senin (12/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 15.00 WIB ini melibatkan berbagai elemen, di antaranya Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas (KMKS), Yayasan Borneo Bela Negara, serta perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP).
Ketua Panitia, Agim, mengatakan sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya pelajar yang terpapar paham menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.
Ia menyebutkan, pada 2025 tercatat sejumlah kasus di Indonesia yang melibatkan pelajar, termasuk kemunculan paham Neo-Nazi, yang juga menjadi perhatian di Kalimantan Barat.
“Media sosial menjadi tantangan besar saat ini. Propaganda dan ajakan ideologis kerap menyasar pelajar melalui platform digital. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat membekali siswa agar lebih bijak bermedia sosial dan tidak mudah terpengaruh,” ujar Agim.
Sementara itu, Ketua Yayasan Borneo Bela Negara, Rony Ramadhan Putra, menegaskan bahwa intoleransi kerap menjadi pintu masuk berkembangnya paham radikal.
Menurutnya, ketidakmauan menerima perbedaan dapat berkembang menjadi ekstremisme dan berpotensi berujung pada tindakan kekerasan.
“Radikalisme, termasuk paham Neo-Nazi, merupakan ancaman serius. Jika tidak dicegah sejak dini, dampaknya bisa luas dan berkelanjutan, terutama bagi pelajar tingkat SMP dan SMA sederajat,” kata Rony.
Ia juga menjelaskan bahwa pelajar menjadi salah satu kelompok yang rentan menjadi sasaran penyebaran paham radikal, terutama mereka yang mengalami tekanan psikologis seperti perundungan.
Faktor pencarian jati diri, rasa aman, dan pengakuan sering dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mempengaruhi siswa.
Ketua Umum KMKS, Azwar Abu Bakar, turut mengajak para pelajar untuk bersama-sama menolak radikalisme dan paham ekstrem lainnya, serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
“Pelajar harus kritis dan cerdas menyaring informasi, terutama di media sosial. Jangan mudah terprovokasi oleh hoaks atau narasi yang memecah belah,” tegasnya.
Selain pemaparan materi, peserta juga diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah menangkal radikalisme, di antaranya melalui peningkatan literasi media, penguatan pendidikan karakter, serta membuka ruang dialog dan komunikasi yang sehat.
Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri Kepala SMK Negeri 1 Pemangkat, Ketua Yayasan Borneo Bela Negara, pengurus dan anggota KMKS, perwakilan UMP, serta para pelajar.











