Sabtu pagi di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat berjalan pelan dan tenang. Sisa hujan malam masih menyisakan udara lembap. Jalan desa lengang.
Di balik suasana yang sederhana itu, Tarhibatul Abror menata harapan dari lahan kecil di belakang rumahnya.
Abror bukan petani dengan bentang lahan luas. Ia hanya mengelola sekitar seperempat hektare tanah. Namun dari situlah sumber penghidupan keluarganya bertumbuh. Lahan itu ditanaminya cabai ruyung, jenis cabai yang dikenal produktif dan memiliki pasar tetap di tingkat lokal.
Barisan tanaman cabai tampak rapi. Batangnya kokoh, daun-daunnya hijau segar. Kebun kecil itu kini memasuki masa panen. Setiap dua hari sekali, Abror memetik hasilnya, dibantu beberapa warga sekitar yang bekerja harian.
“Sekali panen sekitar 50 kilogram,” ujar Abror sambil memetik cabai yang masih berwarna kuning. Cabai ruyung, kata dia, justru dipanen sebelum memerah sempurna. Dari kebun itu pula, hasil panen langsung disalurkan ke pelanggan tetap di Nanga Pinoh dengan harga Rp50.000 per kilogram.
Sejak tanam hingga panen pertama, Abror membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Setelahnya, tanaman terus berbuah selama kurang lebih dua bulan. Ketika produksi menurun dan tanaman memasuki fase vegetatif, perawatan kembali dilakukan. “Kalau sudah tidak berbuah, dipupuk lagi sampai keluar bunga baru,” katanya. Dengan perawatan yang konsisten, tanaman cabai bisa bertahan hingga satu tahun.
Menanam cabai di musim penghujan menuntut ketelatenan lebih. Curah hujan tinggi berisiko merusak batang dan memicu penyakit tanaman. Drainase harus dijaga, pemupukan dilakukan terukur, dan kebun rutin diawasi. Kerja ekstra itu menjadi harga yang harus dibayar agar tanaman tetap sehat.
Bagi Abror, kebun cabai di belakang rumah bukan sekadar aktivitas bertani. Ia menjadi penyangga ekonomi keluarga, sekaligus bukti bahwa lahan sempit tak selalu berarti peluang terbatas. Dengan pengetahuan, kesabaran, dan kerja tekun, dari seperempat hektare tanah, harapan itu terus tumbuh—setangkai demi setangkai cabai.










