banner 468x60
Hukum dan Kriminal

Siswi MTs di Pontianak Gantung Diri, Kemenag Tegaskan Tak Ada Indikasi Perundungan

×

Siswi MTs di Pontianak Gantung Diri, Kemenag Tegaskan Tak Ada Indikasi Perundungan

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, PONTIANAK – Duka mendalam menyelimuti keluarga dan lingkungan sekolah setelah seorang siswi berusia 13 tahun yang menempuh pendidikan di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Pontianak ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (22/1/2026) pagi.

Seiring peristiwa tersebut, beredar kabar di masyarakat dan media sosial yang menyebutkan bahwa korban nekat mengakhiri hidupnya akibat dugaan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Menanggapi isu tersebut, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Penmad) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak, Aris Sujarwono, menegaskan bahwa pihaknya tidak menemukan adanya indikasi perundungan dalam kasus tersebut.

“Pada intinya, permasalahan ini sudah selesai. Terkait isu bullying, kami pastikan tidak ada dan tidak ada indikasi yang bisa menjustifikasi ke arah sana. Ini murni tekanan pribadi yang bersifat personal,” ujar Aris kepada wartawan, Rabu (28/1/2026).

Aris kemudian menjelaskan kronologi singkat sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi. Ia menyebutkan, pada Sabtu (17/1/2026), almarhumah mengikuti kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah.

Pada hari itu, dilaporkan adanya kehilangan uang kas PMR sekitar Rp200 ribu.

“Dari sudut pandang kami, almarhumah kemungkinan bermaksud meminjam uang kas tersebut dan lupa menyampaikan kepada pengurus. Pada Selasa (20/1/2026), dari rekaman CCTV memang terlihat indikasi yang kemudian sempat beredar di sejumlah media,” jelasnya.

Keesokan harinya, almarhumah dipanggil oleh wali kelas untuk dimintai keterangan.

Dalam pertemuan tersebut, ia mengakui bahwa uang tersebut masih berada di rumah dan belum digunakan, serta berjanji akan mengembalikannya.

“Dia juga menyampaikan bahwa uang itu rencananya untuk keperluan sebuah acara. Bahkan, salah satu guru sudah menyatakan kesediaannya untuk membantu dengan nominal yang dibutuhkan,” kata Aris.

Menurutnya, saat bertemu dengan rekan-rekan PMR, almarhumah sempat ditanya terkait persoalan tersebut.

Namun, respons dari teman-temannya dinilai biasa dan tidak mengarah pada tindakan perundungan.

“Responsnya sederhana saja. Teman-temannya tidak mempermasalahkan. Namun, kemungkinan karena merasa malu dan tertekan secara pribadi, almarhumah mengambil keputusan yang sangat disayangkan,” ungkapnya.

Sebelum peristiwa itu terjadi, almarhumah sempat menyampaikan pesan kepada ibunya pada Rabu malam bahwa ia merasa malu dan tidak ingin masuk sekolah.

Pada malam harinya, kejadian tragis tersebut pun terjadi.

“Almarhumah juga meninggalkan surat berisi permintaan maaf kepada orang tuanya. Isinya menunjukkan penyesalan pribadi dan tidak menyebutkan adanya kesalahan pihak lain,” tambah Aris.

Ia juga menegaskan bahwa pihak Kemenag telah memfasilitasi musyawarah antara pihak sekolah dan keluarga korban untuk meluruskan isu yang berkembang.

“Pertemuan sudah dilakukan, dan pada intinya semua pihak telah legowo dan menerima kejadian ini dengan lapang dada,” tutupnya.