AKSARALOKA.COM, PONTIANAK – Paruu Tambe tidak hanya dikenal sebagai perahu hias tradisional, tetapi juga simbol persaudaraan dan kearifan lokal masyarakat Suku Dayak Taman dan Suku Dayak Tamambaloh, 19 Februari 2026.
Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh seluruh komunitas. Nilai kebersamaan ini memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Sy. Faisal Indahmawan Alkadri, S.STP, M.M, menyampaikan bahwa pelestarian tradisi ini menjadi tanggung jawab bersama.
“Paruu Tambe bukan sekadar alat transportasi air, melainkan sarana simbolis yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan budaya yang tinggi. Ia melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta, serta kebersamaan dan doa agar setiap upacara adat berjalan lancar,” ujar Faisal.
Keberadaan Paruu Tambe juga dijaga melalui sejumlah larangan adat, termasuk tidak bolehnya membawa pulang papanyi dan daun tuak dari prosesi pemakaman agar roh tidak mengikuti keluarga kembali dari kuburan. Aturan ini menjadi bagian dari sistem nilai yang dihormati masyarakat.
“Tradisi ini harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi muda. Pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga menjaga nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.
Menurut Faisal, pemerintah provinsi akan terus memperkuat edukasi publik dan promosi budaya agar generasi muda memahami filosofi di balik tradisi tersebut.
“Paruu Tambe adalah kekayaan budaya Kalimantan Barat yang patut dibanggakan. Ini bukan sekadar simbol masyarakat Dayak, tetapi juga aset budaya Indonesia,” tutup Faisal.

















