banner 468x60
Aksara Landak

Memohon Hujan dan Keselamatan, DAD Ngabang Gelar Ritual Adat Bapinta Ka’ Jubata

×

Memohon Hujan dan Keselamatan, DAD Ngabang Gelar Ritual Adat Bapinta Ka’ Jubata

Sebarkan artikel ini

NGABANG — Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, menggelar ritual adat Bapinta Ka’ Jubata di Tugu Batu Pakat, Binua Pantu Seratus, Kawasan Terminal Bus Ngabang, Sabtu (5/9/2026) pagi.

Ritual digelar sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan dari bencana kabut asap serta memohon diturunkannya hujan akibat kemarau panjang.

Rangkaian ritual adat dipimpin langsung oleh seorang Panyangahatn atau imam adat. Lengkap dengan berbagai paraga (perlengkapan) adat, Panyangahatn melantunkan doa-doa secara khusyuk.

Selain dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), pengurus DAD Kabupaten Landak, tokoh organisasi masyarakat, serta tokoh adat setempat, ritual ini turut disaksikan oleh Ketua Satgas Karhutla Kabupaten Landak Brigjen TNI Ahmad Fauzi bersama rombongan Siswa Sesko TNI.

Memohon Keselamatan di Tengah Musim Kemarau

Ketua DAD Kecamatan Ngabang, Cahyatanus, menjelaskan bahwa ritual Bapinta Ka’ Jubata merupakan tradisi masyarakat adat Dayak untuk memohon keselamatan kepada Sang Pencipta (Jubata), khususnya di tengah krisis iklim dan lingkungan yang melanda wilayah setempat.

“Melalui doa versi Dayak ini, kita meminta keselamatan kepada Jubata yang menciptakan langit dan bumi dalam situasi kabut asap dan kemarau panjang,” ujar Cahyatanus.

Ia menegaskan, pelaksanaan ritual adat ini bukanlah bentuk penyimpangan keagamaan, melainkan wujud pelestarian warisan budaya para leluhur.

“Ini bukan berarti kita orang Dayak menduakan Tuhan, melainkan tradisi dan kebudayaan kita. Dampak kemarau panjang saat ini sangat dirasakan masyarakat, mulai dari aktivitas sekolah yang terpaksa diliburkan hingga timbulnya masalah kesehatan. Karena itu, kita memohon kesehatan jasmani dan rohani, serta berharap hujan terus turun agar kualitas udara kembali normal,” katanya.

Makna Keharmonisan Alam dan Manusia

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris DAD Kabupaten Landak, Marsianus, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran jajaran TNI dalam prosesi adat tersebut. Menurutnya, ritual ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Dayak yang menjunjung tinggi keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

“Orang Dayak hidup menjaga keharmonisan. Jika terjadi sesuatu pada alam, seperti kabut asap, kita memohon petunjuk dan perlindungan kepada Jubata. Adat ini adalah ‘jalan’ atau perantara doa kita agar sampai kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Marsianus.

Marsianus menambahkan, ‘Bapinta’ secara harfiah berarti meminta. Ia mengungkapkan rasa syukur karena hujan sempat mengguyur sebagian wilayah Landak jelang pelaksanaan ritual.

“Meski baru dalam tahap perencanaan kemarin, hujan sudah sempat turun di beberapa tempat. Kami meyakini niat baik ini diijabah oleh Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Sementara itu, Timanggong Binua Pantu Seratus, Amat, meluruskan pemahaman publik terkait lokasi pelaksanaan ritual di Tugu Batu Pakat Terminal Ngabang.

Ia menegaskan bahwa tugu tersebut bukanlah objek penyembahan, melainkan tempat berkumpul dan simbol pemersatu masyarakat.

“Tolong jangan ada salah pemahaman bahwa kita menyembah berhala. Tugu ini bukan yang kita sembah, tapi tempat kita berkumpul. Ini Batu Sepakat,” tegas Amat.

Amat menambahkan, nama Batu Pakat mengandung arti bahwa segala persoalan dan langkah yang diambil masyarakat selalu diselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.

“Di Kota Ngabang ini, walaupun kita berbeda-beda suku, bahasa, dan agama, kita tetap jadi satu dan sepakat. Intinya hari ini kita mohon kepada Pama Jubata supaya memberikan turun hujan pada wilayah kita yang terkena dampak kebakaran,” pungkasnya.