NGABANG – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menghadiri perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-10 Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya (PBRTB) sekaligus peringatan HUT ke-1 Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB). Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat adat Dayak untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Karolin menyampaikan apresiasi atas konsistensi PBRTB dalam merawat tradisi budaya. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam organisasi kebudayaan, namun tetap mengingatkan agar mereka tidak melupakan pentingnya pendidikan di era digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Melestarikan adat budaya sangat baik, tetapi jangan melupakan sekolah dan teruslah belajar,” kata Karolin, Sabtu (24/10/2026).
Bupati Landak menegaskan bahwa generasi muda Dayak kelak harus bisa menjadi tuan di tanahnya sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Karolin, bekal utama yang harus dimiliki adalah ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya.
“Dengan ilmu pengetahuan kita bisa menguasai daerah kita, bisa menguasai teknologi, bisa menguasai sumber daya alam, bisa menguasai berbagai hal secara ekonomi, secara politik, dan secara budaya,” tegasnya.
Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mendukung pendidikan, Karolin mengungkapkan bahwa pihaknya tengah merancang peraturan daerah (Perda) untuk menjamin masa depan pendidikan di Kabupaten Landak.
“Saya bersama dengan pemerintah dan DPRD Kabupaten Landak sedang memikirkan untuk menyusun Perda mengenai Dana Abadi Pendidikan. Jadi kita mau taruh uang dan tidak boleh diganggu gugat khusus untuk pendidikan,” ujar Bupati Landak.
Selain pendidikan, Karolin juga membawa kabar baik terkait pengakuan hukum adat.
“Pemerintah daerah Kabupaten Landak sudah menandatangani MOU dengan Universitas Tanjungpura untuk menyusun Perda tentang Hukum Adat atau kalau dalam KUHP yang baru disebut dengan Living Law. Jika selesai tahun depan, mungkin kita adalah kabupaten pertama di Indonesia yang bisa menyusun Perda mengenai hukum adat yang mendukung KUHP baru,” ungkapnya.
Sementara itu, Panglima Tambak Baya sekaligus Panglima Tertinggi MMBB, Marselinus Mian, dalam orasinya menekankan bahwa budaya merupakan benteng moral bagi masyarakat Dayak dalam menghadapi gempuran zaman. PBRTB hadir sebagai wadah perlindungan budaya dari arus destruktif modernisasi.
“Budaya adalah akar etika yang menjaga sebuah bangsa tetap berdiri di tengah derasnya arus zaman bagi masyarakat Dayak,” ungkap Mian.
Mian menjelaskan bahwa ritual adat yang dilestarikan oleh organisasinya memiliki filosofi mendalam, bukan sekadar tontonan.
“Bagi kami Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya bukanlah sekedar pertunjukan teatrikal manusia melainkan sebuah bentuk komunikasi dua arah antara manusia dan kekuatan alam,” jelasnya.
Sebagai pemimpin tertinggi, Mian juga secara tegas melarang anggotanya untuk melakukan tindakan premanisme, pemerasan, atau eksploitasi yang merusak citra masyarakat Dayak. Ia ingin membentuk karakter generasi Dayak yang mandiri dan taat hukum.
“Saya mendidik kalian menjadi Dayak yang suportif, jadi Dayak yang tangguh. Jangan jadi Dayak minta-minta. Biar miskin asal sombong, saya tidak suka demo-demo karena saya tahu aturan hukum,” tegas Panglima Mian.

















