banner 468x60
Aksara Landak

Nikolaus Supin, Petani Disabilitas Penggerak Pertanian di Dusun Semata Landak

×

Nikolaus Supin, Petani Disabilitas Penggerak Pertanian di Dusun Semata Landak

Sebarkan artikel ini

LANDAK — Hamparan lahan sawah yang baru dibuka dari program Cetak Sawah Rakyat akhir tahun 2025 di Dusun Semata, Desa Temiang Sawi, Kecamatan Ngabang, tak sekadar menjadi lokasi seremoni tanam perdana padi.

Di balik langkah-langkah kaki pejabat dan petani yang berkumpul, ada satu nama yang tidak luput dari sorotan Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, dia adalah Nikolaus Supin.

Ia bukan hanya ketua kelompok tani. Ia adalah cerita tentang ketekunan yang tidak runtuh oleh keterbatasan.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, saat itu khusus datang untuk ikut memulai tanam perdana program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025 bersama Kelompok Tani Semata Tani Andalan, Rabu (8/4/2026).

Di sela penyampaiannya tentang isu-isu strategis pertanian, Karolin mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Supin, petani penyandang disabilitas yang menjadi penggerak utama di balik terbentuknya lahan yang juga ketua kelompok tani Semata Tani Andalan.

“Saya mengenal Pak Supin sudah lama dan mengagumi semangatnya berkarya untuk kampung, gereja, dan masyarakat,” kata Karolin.

Karolin turut mengingatkan satu hal sederhana namun kuat. Pembangunan tidak akan berjalan jika semangat kalah oleh keadaan.

“Beliau punya keterbatasan tapi tidak menyerah. Jadi, Ibu Bapak yang punya tanah di sini, jangan kalah semangatnya dengan Pak Supin,” tutupnya.

Di lahan seluas sekitar 16 hektare itu, Supin tidak hanya hadir sebagai simbol. Ia bekerja sejak awal program cetak sawah untuk pembukaan lahan sawah baru dilakukan di kampung halamannya tersebut.

Mulai dari menggelar rapat, menggerakkan petani, hingga memastikan lahan yang sudah dicetak benar-benar ditanami.

Hampir sepuluh kali rapat ia biayai sendiri. Alat dan mesin pertanian (alsintan) ia bawa dengan ongkos pribadi. Bahkan konsumsi kegiatan ditanggung bersama warga dengan iuran sederhana.

“Rapat hampir 10 kali saya biayai sendiri. Alat-alat alsintan saya bawa sendiri dengan biaya pribadi, tidak membebani petani,” ujar Supin.

Kisahnya tidak berhenti di sana. Ia adalah penyandang disabilitas akibat kecelakaan tertimpa pohon saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, di usia 14 tahun. Hingga seluruh tangan kanannya harus direlakan. Namun, peristiwa itu tidak menghentikan langkahnya.

Hari-harinya kini dihabiskan di antara lahan dan jalan. Dari rumahnya di Ngabang, ia bolak-balik ke lokasi pertanian dengan jalan tanah dan berbatu yang berjarak hampir 1 jam. Kadang menggunakan kendaraan roda dua dan bahkan masih mampu mengoperasikan alat berat hingga mengemudikan truk.

“Puji Tuhan, lahan ini saya kerjakan dari jam 6 pagi. Saya istirahat sebentar, lalu turun lagi jam 2 siang sampai malam,” tuturnya.

Bagi Supin, sawah di Dusun Semata, Desa Temiang Sawi itu bukan sekadar proyek. Ia melihatnya sebagai masa depan kampung.

Ia bahkan memperkirakan lahan tersebut mampu menghasilkan hingga 100 ton padi per musim, jika dikelola dengan serius.

Di tengah keterbatasan infrastruktur seperti kebutuhan jembatan, irigasi, dan pintu air, termasuk kebutuhan pembersihan lahan yang masih perlu dilakukan, Supin memilih tidak menunggu. Baginya, lahan yang sudah ada harus segera dikerjakan.

Salah satu upaya yang dilakukanya melalui skema pembiayaan melalui pinjaman dana dari Credit Union. Sehingga proses pengolahan lahan bisa terus berjalan dan hamparan lahan yang telah dibuka bisa tumbuh padi-padi untuk ketahanan pangan keluarga.

Cerita dari Dusun Semata ini bukan hanya tentang tanam perdana. Ini tentang bagaimana tekad seseorang mampu menggerakkan banyak orang, bahkan di tengah keterbatasan yang seharusnya menjadi alasan untuk berhenti.