banner 468x60
EkonomiPemerintahan

Demi Smelter Kayong Utara, 89 Pemuda Digembleng di China: Ada yang Belajar Mandarin 4 Bulan

×

Demi Smelter Kayong Utara, 89 Pemuda Digembleng di China: Ada yang Belajar Mandarin 4 Bulan

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK — Di balik keberangkatan 89 pemuda Indonesia ke Holingol, China, tersimpan kisah perjuangan panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia industri aluminium di Kalimantan Barat.

Mereka bukan sekadar dikirim belajar teknologi pengolahan aluminium, tetapi juga dipersiapkan menjadi tenaga kerja inti untuk mendukung proyek hilirisasi di Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Kabupaten Kayong Utara.

Salah satu peserta, Yusril Damara, mengaku harus melewati pelatihan intensif Bahasa Mandarin selama empat bulan sebelum akhirnya berangkat ke China. Alumni Politeknik Negeri Pontianak itu mengikuti pelatihan melalui kerja sama Universitas Tanjungpura dan Sekolah Tinggi Bahasa Harapan Bersama.

“Perjuangan dan usaha selama empat bulan ini akhirnya terbayarkan,” kata Yusril, Minggu (17/5/2026).

Bagi Yusril, kesempatan belajar ke China bukan hanya soal pekerjaan, melainkan bagian dari cita-citanya membangun daerah asal.

“Saya ingin membangun Kayong Utara. Saya berharap daerah kami semakin maju dengan adanya smelter ini,” ujarnya.

Cerita serupa datang dari Zainir Oktaviani, sarjana Fisika Murni Fakultas MIPA yang menjadi salah satu peserta perempuan dalam rombongan tersebut. Sebagai anak pertama di keluarganya, ia mengaku ingin menjadi contoh bagi adik-adiknya.

“Dukungan orangtua sejak kecil sampai sekarang menjadi kekuatan terbesar saya,” kata Zainir.

Ia berharap generasi muda Kalbar tidak hanya menjadi penonton di tengah berkembangnya industri modern di daerah sendiri.

“Saya ingin Kayong Utara berkembang pesat dan menjadi daerah yang maju,” ucapnya.

Program pengembangan SDM ini diinisiasi PT Dharma Inti Bersama (DIB). Dari total 89 peserta, sebanyak 14 orang merupakan putra daerah asal Kayong Utara.

Perwakilan manajemen PT DIB, Rasnius Pasaribu, mengatakan teknologi yang dipelajari di China nantinya akan diterapkan langsung dalam operasional industri hilirisasi aluminium di KIPP.

“Teknologi yang dipelajari para peserta di China nantinya akan diterapkan langsung dalam operasional industri hilirisasi aluminium di KIPP,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kayong Utara, A Azahari, menilai pengalaman di China tidak hanya membentuk kemampuan teknis, tetapi juga mental dan budaya kerja peserta.

“Cina memiliki etos kerja tinggi, disiplin, dan tetap menjunjung adab serta sopan santun. Nilai-nilai positif itu yang harus diserap anak-anak kita,” kata Azahari.

Suasana pelepasan peserta pun berlangsung haru. Sejumlah orangtua terlihat mendampingi anak-anak mereka hingga menjelang keberangkatan.

Dalam sambutannya, Azahari menitipkan pesan sederhana kepada para peserta yang akan tinggal jauh dari keluarga selama beberapa bulan.

“Walaupun nanti berada di negeri orang, jangan pernah lupa menelepon ibu kalian,” pesannya.

Anggota DPD RI asal Kalbar, Daud Yordan, menilai kesempatan belajar dan peluang kerja yang diterima para peserta merupakan peluang langka di tengah ketatnya persaingan kerja saat ini.

“Mereka yang berangkat hari ini punya kesempatan besar untuk kembali dan bekerja sesuai bidang keahlian masing-masing,” ujar Daud.

Ia pun berharap seluruh peserta kembali ke daerah untuk ikut membangun Kalimantan Barat.

“Ambil ilmu sebanyak-banyaknya, lalu pulang dan bangun Kalimantan Barat,” tutupnya.