LANDAK – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menyoroti masih rendahnya rata-rata lama sekolah masyarakat di Kabupaten Landak yang saat ini baru mencapai sekitar tujuh tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan rata-rata penduduk baru menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sekolah dasar dan belum menamatkan sekolah menengah pertama.
Hal itu disampaikan Karolin saat menutup rangkaian Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) di Desa Tubang Raeng, Kecamatan Jelimpo, Kamis (2/7/2026).
Karolin mengingatkan para orang tua agar tidak membiarkan anak putus sekolah karena pendidikan menjadi bekal utama menghadapi persaingan di masa depan.
“Anak-anak jangan sampai tidak sekolah. Kalau tidak sekolah, mereka tidak akan mampu bersaing di masa yang akan datang,” kata Karolin.
Menurutnya, jumlah penduduk Kabupaten Landak terus meningkat sehingga persaingan dalam memperoleh pekerjaan maupun mengembangkan usaha akan semakin ketat.
“Kalau dulu penduduk Landak sekitar 200 ribu jiwa, sekarang sudah lebih dari 400 ribu. Anak-anak kita harus mampu bersaing dengan teman seangkatannya, baik ketika mencari pekerjaan maupun saat menjadi petani,” ujarnya.
Karolin mengatakan pendidikan merupakan salah satu cara terbaik bagi orang tua untuk mempersiapkan masa depan anak. Karena itu, ia meminta orang tua mencari solusi apabila anak enggan bersekolah, bukan justru membiarkannya berhenti.
Ia berharap seluruh anak di Desa Tubang Raeng dapat menyelesaikan pendidikan minimal hingga SMA.
“Paling tidak anak-anak bisa melanjutkan sampai SMP dan SMA. Sekolah negeri untuk SD dan SMP tidak dipungut biaya, sehingga kesempatan itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.
Selain pendidikan, Karolin juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan anak. Ia menyinggung pelaksanaan sunatan massal yang digelar dalam rangkaian kegiatan BBGRM sebagai salah satu upaya menjaga kebersihan dan kesehatan anak laki-laki.
Menurut Karolin, perhatian terhadap kesehatan anak juga harus diwujudkan melalui upaya menekan angka stunting yang masih tergolong tinggi di Kabupaten Landak.
Ia meminta para orang tua memperhatikan asupan gizi anak dan mengurangi kebiasaan memberikan makanan instan atau jajanan yang kurang bernutrisi.
“Berikan anak-anak makanan sehat dan bergizi. Tidak harus mahal, bisa dengan telur atau kacang hijau. Yang penting kebutuhan gizinya terpenuhi agar pertumbuhan mereka optimal,” ujar Karolin.
Karolin juga mengajak keluarga mengubah pola pengeluaran rumah tangga dengan lebih mengutamakan kebutuhan gizi anak dibandingkan pengeluaran yang tidak mendesak.
“Kalau biasanya beli rokok dua bungkus, kurangi menjadi satu bungkus. Sisanya bisa digunakan membeli telur atau kacang hijau untuk anak-anak. Dengan begitu, kesehatan dan masa depan mereka akan lebih terjamin,” katanya.

















