banner 468x60
Sambas

Limbah Tahu Disulap Jadi Pupuk Organik, Petani Semparuk Kembangkan Cabai Tahan di Tengah El Nino

×

Limbah Tahu Disulap Jadi Pupuk Organik, Petani Semparuk Kembangkan Cabai Tahan di Tengah El Nino

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, SAMBAS – Ancaman El Nino dan keterbatasan air tak menyurutkan langkah Kelompok Tani Dare Nandung, Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, untuk terus mengembangkan budidaya cabai.

Di tengah kekhawatiran petani terhadap kekeringan, kelompok tani tersebut justru mencoba inovasi dengan memanfaatkan limbah produksi tahu sebagai bahan pupuk organik untuk tanaman cabai.

Ketua Kelompok Tani Dare Nandung, Sukiman, mengatakan inovasi tersebut dilakukan sebagai upaya mempertahankan produktivitas tanaman cabai sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Menurut Sukiman, tanaman hortikultura seperti cabai menjadi salah satu komoditas yang cukup rentan ketika terjadi El Nino. Minimnya ketersediaan air membuat sebagian petani memilih mengurangi atau bahkan menunda penanaman.

“Kami mencoba membuat desain budidaya cabai agar tidak hanya berumur empat atau enam bulan, tetapi bisa terus berproduksi sepanjang tahun,” ujar Sukiman.

Ia menjelaskan, limbah yang berasal dari proses produksi tahu tidak langsung digunakan pada tanaman. Limbah tersebut terlebih dahulu melalui proses pengolahan dan fermentasi agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.

Dengan metode tersebut, limbah produksi tahu dimanfaatkan untuk membantu penyiraman sekaligus memberikan nutrisi bagi tanaman cabai.

“Selama El Nino, petani banyak yang takut menanam cabai karena keterbatasan air. Kami justru memanfaatkan limbah produksi tahu untuk penyiraman dan pemupukan,” jelasnya.

Target Perpanjang Masa Produktif Cabai

Sukiman mengatakan penggunaan bahan organik tersebut diharapkan mampu memperpanjang masa produktif tanaman cabai. Tidak hanya menghasilkan panen dalam waktu beberapa bulan, tanaman diharapkan dapat tetap berproduksi dalam jangka yang lebih panjang.

“Karena menggunakan organik, kami berharap tanaman cabai bisa berumur panjang dan produksinya lebih stabil. Dengan begitu, pasokan cabai tidak terlalu mengalami naik turun,” katanya.

Menurutnya, inovasi tersebut bukan semata-mata untuk meningkatkan hasil pertanian. Lebih dari itu, pemanfaatan limbah juga menjadi bagian dari upaya mengurangi persoalan lingkungan yang selama ini muncul akibat limbah rumah tangga dan makanan.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru menganggap limbah sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tertentu justru dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan pertanian.

“Limbah rumah tangga maupun limbah makanan jangan langsung dibuang. Kalau dikelola dan difermentasi dengan baik, bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman,” ungkapnya.

Masih dalam Tahap Pengembangan

Sukiman mengakui, inovasi pemanfaatan limbah tahu tersebut masih dalam tahap pengembangan dan pengamatan. Pihaknya masih melakukan pengujian untuk mengetahui kandungan serta efektivitas limbah yang telah diolah terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai.

Karena itu, penerapan metode tersebut secara lebih luas masih membutuhkan pengamatan dan evaluasi lebih lanjut.

Ia berharap inovasi sederhana tersebut nantinya dapat menjadi salah satu alternatif solusi bagi masyarakat. Selain membantu petani menghadapi keterbatasan air dan menjaga produktivitas cabai, pemanfaatan limbah juga dinilai dapat membantu mengurangi persoalan lingkungan.

“Selama ini limbah menjadi persoalan karena menimbulkan bau dan mengganggu lingkungan. Dan ini saya mencoba mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, salah satunya untuk pupuk tanaman cabai,” pungkasnya.