banner 468x60
Sambas

Kekeringan Melanda Dungun Perapakan Sambas, 263 KK Kesulitan Air Bersih

×

Kekeringan Melanda Dungun Perapakan Sambas, 263 KK Kesulitan Air Bersih

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, Sambas — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sambas mulai berdampak serius terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.

Di Dusun Asam Kanis, Desa Dungun Perapakan, Kecamatan Tebas, warga mengaku kesulitan memperoleh air bersih setelah lebih dari dua bulan tidak turun hujan.

Kondisi tersebut menyebabkan sumur warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga bahkan terpaksa membeli air yang didatangkan dari sungai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari mencuci pakaian hingga mencuci piring.

Saputra, warga Dusun Asam Kanis, mengatakan kekeringan membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air.

“Sudah sekitar dua bulan lebih tidak hujan. Kami betul-betul kekeringan air. Untuk air bersih sudah tidak dapat lagi, sehingga harus membeli dan mendatangkan dari sungai,” ujar Saputra.

Menurutnya, warga harus membayar sekitar Rp100 ribu untuk mendapatkan air sebanyak 2.000 liter.

Biaya tersebut dinilai cukup membebani masyarakat apabila kondisi kekeringan terus berlangsung.

Warga sebenarnya telah berupaya mencari sumber air dengan membuat sumur secara manual.

Namun, sumur dengan kedalaman sekitar 30 meter belum menghasilkan air yang layak digunakan. Air yang keluar berwarna kuning dan mengandung zat besi.

“Kalau hanya 30 meter, air yang didapat tidak jernih dan mengandung karat besi. Airnya kuning. Yang belum kami coba mungkin pengeboran sampai sekitar 100 meter menggunakan mesin,” katanya.

Saputra berharap pemerintah segera membantu pembangunan sumur bor dengan kedalaman yang lebih memadai, khususnya bagi warga RT 6, RT 7 dan RT 8 yang mengalami dampak kekeringan cukup parah.

“Kami sangat berharap pemerintah bisa membantu mendatangkan sumur bor, kalau bisa sampai 100 meter menggunakan mesin. Satu titik untuk satu RT pun sangat membantu karena kami di sini memang sangat kesulitan air,” ungkapnya.

Selain kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran warga terhadap potensi kebakaran di sekitar permukiman.

Minimnya sumber air dikhawatirkan menyulitkan warga melakukan penanganan apabila terjadi kebakaran.

“Air sungai yang pasang juga tidak masuk ke sini. Untuk cuci baju dan cuci piring saja tidak ada, semuanya harus beli. Jangan sampai ada kebakaran, karena mencari air saja kami sudah sangat kesulitan,” tutur Saputra.

263 Kepala Keluarga Terdampak

Kepala Dusun Asam Kanis, Sabri, membenarkan kondisi kekeringan telah berlangsung sekitar dua bulan.

Menurutnya, situasi tersebut membuat kebutuhan air bersih warga semakin sulit dipenuhi dan menambah beban biaya hidup masyarakat.

“Saat ini memang kesulitan untuk keperluan sehari-hari, terutama air bersih. Akibat kekeringan ini, biaya hidup masyarakat juga menjadi bertambah,” ujar Sabri.

Sabri menyebut sekitar 263 kepala keluarga (KK) terdampak cukup parah, terutama warga di RT 6, RT 7 dan RT 8.

Kondisi tersebut diperparah karena aliran air sungai di sekitar wilayah tersebut tidak sampai ke permukiman warga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air langsung dari sungai menggunakan jeriken.

Air tersebut dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Warga saat ini datang langsung ke sungai dan membawa air menggunakan jeriken untuk keperluan MCK, memasak dan kebutuhan lainnya,” katanya.

Secara keseluruhan, Desa Dungun Perapakan memiliki sekitar 649 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 2.721 jiwa.

Sabri berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih secara merata, terutama bagi masyarakat yang terdampak paling parah.

Selain bantuan air, warga juga berharap adanya pembangunan sumur bor permanen sebagai solusi jangka panjang.

Pasalnya, sumur manual dengan kedalaman sekitar 30 meter belum menghasilkan air yang layak digunakan untuk kebutuhan masyarakat.

“Air yang ditemukan dari sumur manual sangat keruh dan kemungkinan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Mudah-mudahan pemerintah dapat membantu pembuatan sumur bor permanen sehingga menghasilkan air bersih yang bisa digunakan untuk makan, minum, MCK dan kebutuhan lainnya,” pungkasnya.