PONTIANAK – Provinsi Kalimantan Barat untuk pertama kalinya masuk nominasi Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Kalbar menjadi satu dari 57 pemerintah daerah yang lolos nominasi dalam ajang penghargaan inovasi pemerintahan tersebut.
Dalam tahapan penilaian, Gubernur Kalbar Ria Norsan memaparkan capaian inovasi daerah secara daring dari Data Analytic Room (DAR) Kantor Gubernur Kalbar, Kamis (5/11/2026).
Pemaparan tersebut dinilai dewan juri yang terdiri dari unsur Kemendagri, Kementerian PPN/Bappenas, akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Metro TV, dan Tribunnews.
Masuknya Kalbar dalam nominasi IGA 2026 menjadi capaian tersendiri di tengah upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui berbagai terobosan.
Berdasarkan data 2026, Pemprov Kalbar telah mencatat 76 inovasi daerah. Sebanyak 67 inovasi atau 88,16 persen di antaranya telah memasuki tahap penerapan, enam inovasi masih dalam tahap inisiatif, dan tiga lainnya berada pada tahap uji coba.
Dari sisi jenisnya, 53,95 persen merupakan inovasi digital, sedangkan 46,05 persen lainnya berupa inovasi non-digital.
Dalam penilaian tersebut, dua inovasi unggulan yang dipaparkan Ria Norsan adalah GERAI-KU dan SIDEKAP. Keduanya menyasar sektor berbeda, yakni ketahanan pangan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
GERAI-KU dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap komoditas pangan, khususnya telur dan daging ayam, melalui mekanisme pemasaran yang menghubungkan peternak atau produsen secara langsung dengan konsumen.
Skema tersebut diharapkan mampu memangkas rantai distribusi, memberikan kepastian harga bagi peternak, sekaligus menyediakan komoditas pangan dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, GERAI-KU telah memfasilitasi distribusi produk sebanyak 91.968,34 kilogram dengan nilai transaksi mencapai Rp2,57 miliar. Dari kegiatan tersebut, manfaat ekonomi yang diterima konsumen tercatat sebesar Rp514,4 juta.
Volume produk yang difasilitasi juga meningkat 90,7 persen dibandingkan tahun 2025.
Inovasi ini dikembangkan melalui kolaborasi Bank Indonesia, TNI AU, perangkat daerah, asosiasi, koperasi, pelaku usaha, komunitas, hingga peternak. GERAI-KU bahkan telah direplikasi di Kabupaten Sintang dan Ketapang.
Sementara itu, inovasi SIDEKAP atau Sistem Pelaporan Insiden Terintegrasi difokuskan pada peningkatan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan.
SIDEKAP dikembangkan untuk mengatasi sistem pelaporan insiden keselamatan pasien yang sebelumnya masih dilakukan secara manual dan berbasis kertas.
Melalui sistem digital ini, proses pelaporan, verifikasi, analisis, hingga tindak lanjut insiden dapat dilakukan secara terintegrasi dan terdokumentasi.
SIDEKAP menerapkan prinsip No Name, No Shame, dan No Blame. Prinsip tersebut memberikan ruang bagi tenaga kesehatan untuk melaporkan insiden tanpa khawatir terhadap identitas, stigma, maupun tindakan saling menyalahkan.
Sistem ini juga dilengkapi fitur pelaporan daring, verifikasi dan penilaian insiden, analisis akar masalah atau Root Cause Analysis, rekomendasi perbaikan, hingga pemantauan laporan secara real time.
Dampaknya terlihat dari peningkatan jumlah laporan insiden. Pada 2024 tercatat 89 laporan, kemudian meningkat menjadi 204 laporan pada 2025. Sementara pada Januari hingga Juni 2026, jumlahnya mencapai 392 laporan.
Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan, masuknya Kalbar dalam nominasi IGA 2026 menjadi capaian sekaligus motivasi untuk memperkuat budaya inovasi di lingkungan pemerintahan.
Menurutnya, keberhasilan inovasi tidak semata-mata diukur dari penghargaan, tetapi dari kemampuan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Yang paling penting bukan sekadar penghargaan, melainkan bagaimana inovasi yang dikembangkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menyelesaikan persoalan daerah, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik,” ujarnya.
Ia menegaskan, inovasi harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang efektif agar kebijakan dan program pemerintah dapat dipahami serta melibatkan masyarakat.
Untuk menjaga keberlanjutan inovasi, Pemprov Kalbar juga mengintegrasikannya ke dalam indikator kinerja RPJMD Provinsi Kalimantan Barat 2025–2029 dan indikator kinerja utama perangkat daerah.
Selain itu, Pemprov Kalbar mengembangkan website SARIVA KALBAR sebagai sarana informasi berbagai inovasi perangkat daerah, sekaligus membangun forum diskusi untuk mendukung pembinaan dan pengembangan inovasi.
Ria Norsan berharap seluruh perangkat daerah terus menghasilkan inovasi yang berkelanjutan, memiliki dampak terukur, dan dapat direplikasi di wilayah lain.
“Kami ingin memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap penciptaan atau penilaian, tetapi terus dikembangkan, diterapkan, dan direplikasi agar manfaatnya semakin luas,” pungkasnya.

















