banner 468x60
Cover Story

Menembus Pedalaman Sungai Mentoba: Perjalanan, Sungai, dan Cerita dari Jantung Melawi

×

Menembus Pedalaman Sungai Mentoba: Perjalanan, Sungai, dan Cerita dari Jantung Melawi

Sebarkan artikel ini

Pagi itu, Minggu yang masih muda di Nanga Pinoh. Matahari baru naik setinggi pucuk pepohonan ketika kami memulai perjalanan ke arah Ella Hilir.

Udara segar masih tersisa, jalanan lengang, dan roda kendaraan melaju tanpa tergesa. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Logpon—titik terakhir di mana aspal masih setia menemani. Setelah itu, perjalanan berubah menjadi cerita lain.

Di Logpon, kawasan yang dahulu hidup sebagai areal perusahaan kayu, Sungai Melawi terbentang lebar. Airnya tenang, nyaris tak beriak, seolah menyimpan banyak kisah dari hulu hingga hilir.

Kami menyeberang menggunakan perahu kecil. Ongkosnya dua puluh ribu rupiah per motor. Mesin perahu meraung singkat, memecah sunyi pagi, sementara tepian sungai perlahan menjauh. Di situlah kami benar-benar memasuki pedalaman.

Di seberang sungai, jalan tanah perkebunan sawit menyambut. Permukaannya relatif baik, tetapi panjang dan penuh persimpangan yang nyaris serupa satu sama lain. Tanpa penunjuk arah, tersesat hanya soal waktu. Beruntung, Alex—warga setempat—menjadi penunjuk jalan kami.

“Kalau orang baru lewat sini tanpa yang mengantar, bisa mutar-mutar sampai sore. Jalannya mirip semua,” ujar Alex sambil menunjuk sebuah simpang yang sekilas tak berbeda dengan yang lain.

Di beberapa bagian, jalan rusak dan berlubang. Jalur ini hanya bersahabat saat kemarau. Sedikit hujan saja cukup mengubahnya menjadi lintasan licin yang berbahaya.

“Kalau musim hujan, motor sering ditinggal. Licin dan dalam,” kata Alex, singkat, seolah itu kenyataan yang tak perlu diperdebatkan.

Rasa lelah terbayar ketika kami tiba di Desa Sungai Mentoba. Rumah-rumah berdiri rapat. Sebagian masih berupa rumah panjang, dengan anak tangga dari kayu belian yang kokoh dan menghitam dimakan usia.

Warga desa mayoritas berasal dari Suku Dayak Kebahan. Suasana kampung terasa hangat dan tenang, menyatu dengan alam di sekitarnya.

Usai makan, kami menuju Sungai Mentoba. Airnya jernih, mengalir di antara bebatuan. Ketika kaki menyentuhnya, dingin langsung meresap hingga ke tulang.

Sungai ini bukan sekadar tempat mandi atau bermain anak-anak, tetapi juga sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) desa.

Listrik hanya menyala pada malam hari. PLTA itu sempat lama rusak, membuat desa kembali bergantung pada gelap. Kini, setelah diperbaiki, cahaya kembali hadir—meski belum sepenuhnya sempurna.

“Dulu lama mati. Sekarang malam sudah terang lagi, walau belum penuh,” ujar Alex.

Perjalanan berlanjut mencari durian. Kami melewati kuburan kampung, tempat patung-patung kayu berukir berdiri sunyi. Ukiran-ukiran itu menjadi penanda kehadiran leluhur, menjaga ingatan tentang mereka yang pernah hidup dan menyatu dengan tanah ini.

Musim durian hampir usai. Buahnya tak banyak, namun cukup untuk dinikmati bersama.

“Kalau lagi puncak musim, satu pohon bisa makan ramai-ramai,” kata Alex sambil tersenyum, seakan membayangkan suasana yang lebih riuh dari hari itu.

Setelah makan siang sederhana—pop mi hangat di pedalaman—kami bersiap pulang. Jalur yang dipilih kali ini berbeda, melewati jalan lama. Kondisinya jauh lebih menantang: sempit, menanjak, dan menurun tajam. Kendaraan harus benar-benar prima. Sedikit salah perhitungan, laju bisa terhenti di tengah tanjakan.

“Ini jalan lama, jarang dilewati sekarang. Tapi lebih dekat kalau berani,” ujar Alex.

Yang kami kira dekat, ternyata hampir satu jam. Di ujung perjalanan, kami kembali menyeberangi sungai, kali ini dengan ongkos lima belas ribu rupiah.

Kami tiba di titik akhir dengan tubuh lelah, tetapi kepala penuh cerita. Sungai Mentoba mengajarkan satu hal: keindahan pedalaman Melawi tak pernah datang dengan jalan yang mudah. Namun justru di sanalah nilainya—di perjalanan, di sungai, dan di manusia-manusia yang hidup setia menjaga denyut alamnya.