banner 468x60
Aksara Landak

Dalam Konfercab WKRI Ngabang Karolin Soroti KDRT hingga Isu Lingkungan

×

Dalam Konfercab WKRI Ngabang Karolin Soroti KDRT hingga Isu Lingkungan

Sebarkan artikel ini

LANDAK – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menegaskan peran perempuan dalam keluarga tidak bisa dipandang kecil.

“Menjadi perempuan itu berat. Secara ilmiah otak perempuan itu memang diciptakan lebih kompleks dari bentuk otak laki-laki,” kata Karolin saat menghadiri Konferensi Cabang X Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pengurus Cabang Salib Suci Ngabang, Sabtu (11/4/2026), di Aula Persekolahan Maniamas Ngabang.

Konferensi itu mengusung tema Meningkatkan Peran Wanita Katolik RI Melalui Pemberdayaan Perempuan dalam Mewujudkan Kesejahteraan dengan subtema Meningkatkan Peran Wanita Katolik RI dalam Mewujudkan Kesejahteraan Perempuan Mandiri, Kreatif dan Bermartabat untuk Keluarga Sejahtera di Kabupaten Landak.

Ketua Panitia Pelaksana, Aeni, mengatakan kegiatan tersebut digelar berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Cabang Wanita Katolik Republik Indonesia Salib Suci Ngabang tentang pembentukan panitia penyelenggara.

Menurut Aeni, konferensi cabang ini bertujuan membahas dan menetapkan rencana kerja organisasi serta memilih dan mengesahkan pengurus Dewan Pimpinan Cabang WKRI Salib Suci Ngabang masa bakti 2026-2029.

“Kegiatan Konferensi Cabang ke-10 ini dilaksanakan selama satu hari pada hari ini Sabtu tanggal 11 April 2026 di Aula Persekolahan Maniamas Ngabang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peserta yang hadir terdiri dari 48 pengurus cabang, 12 panitia pelaksana, serta 65 pengurus ranting dari 13 ranting. Dari jumlah itu, 52 orang merupakan utusan dan 13 lainnya peninjau. Aeni juga mengatakan, biaya penyelenggaraan kegiatan berasal dari kas organisasi dan sumbangan para donatur.

Ketua Presidium DPD WKRI Kalbar, Agnes Wahyurini W, mengatakan konferensi cabang merupakan forum musyawarah tertinggi di tingkat cabang. Melalui forum itu, anggota meminta dan mengesahkan laporan pertanggungjawaban pengurus, menetapkan rencana kerja, serta memilih pimpinan dewan pengurus cabang untuk masa bakti berikutnya.

“WKRI adalah sebuah organisasi yang berusia 102 tahun,” kata Agnes. Menurut dia, usia itu menunjukkan konsistensi organisasi dalam mengambil peran di tengah masyarakat. Karena itu, WKRI diharapkan tetap menjadi mitra pemerintah, mitra masyarakat, dan mitra gereja dalam upaya mewujudkan kesejahteraan bersama.

Agnes juga mengingatkan empat isu strategis hasil Kongres WKRI tahun 2023, yakni korupsi dan penerobosan ideologi bangsa, perempuan dan anak dalam konteks kemiskinan, lingkungan hidup dan perubahan iklim, serta perempuan dalam perkembangan teknologi dan informasi.

Ia menyebut salah satu program konkret yang dijalankan ialah Rumah Belajar, yakni pendidikan gratis bagi anak-anak usia pra-TK hingga kelas 6 SD yang dilayani anggota WKRI. Selain itu, WKRI juga didorong terlibat dalam penguatan ketahanan pangan keluarga melalui apotek hidup dan kelompok tani hidroponik.

Dalam arahannya, Karolin tidak hanya bicara soal peran perempuan dalam keluarga, tetapi juga menyinggung sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, ekonomi keluarga, UMKM, hingga sampah.

“Peran wanita dalam keluarga memang menjadi tugas tanggung jawab utama kita adalah bagaimana kita membesarkan, mendidik anak-anak kita dalam keluarga,” ujar Karolin.

Menurut dia, perempuan juga berperan menentukan pola makan keluarga, kesehatan anak, dan suasana rumah tangga.

Karolin kemudian menyinggung bagaimana ibu-ibu selama ini menjadi pihak yang paling dekat dengan pengelolaan kebutuhan rumah tangga.

“Jangan ajarkan emak-emak untuk menghemat. Emak-emak paling tahu bagaimana mengatur gaji suami cukup sampai satu bulan,” katanya, disambut tawa peserta.

Di balik suasana yang cair, Karolin juga menyoroti persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang menurut dia masih perlu menjadi perhatian.

“Kita juga ada safe house, ada tempat untuk korban kekerasan perempuan dan anak,” ujarnya.

Selain itu, Karolin menyinggung tantangan pelaku UMKM lokal, terutama terkait ongkos membawa produk ke luar daerah yang sering kali tidak sebanding dengan hasil penjualan. Ia juga menyoroti persoalan sampah di Ngabang yang kian menumpuk dan perlunya perubahan kebiasaan dari rumah tangga.

“Ayo kita mulai memilah sampah kita untuk lingkungan kita, karena plastik itu tidak akan terurai,” kata Karolin.

Karolin menutup arahannya dengan ajakan sederhana yang dinilainya bisa langsung dilakukan para ibu dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau belanja tolong bawa kantong plastik sendiri, bawa sendiri keranjangnya,” tutup Karolin.