LANDAK — Layanan hemodialisa (cuci darah) di RSUD Landak kini resmi berjalan dan sudah dapat dimanfaatkan oleh pasien peserta BPJS Kesehatan. Kehadiran layanan ini menjadi kabar baik bagi masyarakat, meski kapasitas awal masih terbatas.
Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menegaskan bahwa layanan hemodialisa dibangun untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya pasien gagal ginjal yang selama ini harus berobat ke luar daerah.
“Unit HD ini bukan dibuat tanpa dasar, tapi berdasarkan data jumlah pasien dan permintaan masyarakat,” ujar Karolin.
Ia menekankan, layanan tersebut bukan sekadar tambahan fasilitas, melainkan upaya mendekatkan akses kesehatan agar lebih mudah dan terjangkau bagi warga. Selama ini, pasien harus menempuh perjalanan ke Pontianak, Sanggau, Mempawah, hingga Singkawang untuk menjalani terapi rutin.
“RSUD di daerah bukan untuk mengejar keuntungan, tapi memberikan pelayanan maksimal, memudahkan masyarakat, dan menekan biaya,” tambahnya.
Sebelumnya, operasional layanan sempat terkendala meski izin dari Kementerian Kesehatan telah terbit. Karolin pun menyoroti pentingnya sinkronisasi antara pihak terkait, termasuk BPJS Kesehatan, agar layanan yang sudah siap tidak kembali tertunda.
Kini setelah layanan berjalan, pemerintah daerah mendorong peningkatan kapasitas agar lebih banyak pasien dapat tertangani di dalam daerah.
Sementara itu, Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Dialisis RSUD Landak, dr. Rusdianto, Sp.PD, mengungkapkan berdasarkan data BPJS Kesehatan Cabang Landak terdapat sekitar 49 pasien gagal ginjal yang membutuhkan layanan cuci darah.
“Dengan layanan yang sudah berjalan, saat ini kita bisa melayani dua kali dalam seminggu. Harapannya, dengan penambahan tenaga terlatih, jumlah pasien yang terlayani bisa meningkat,” jelasnya.
Secara medis, pasien gagal ginjal kronik memerlukan terapi pengganti ginjal secara rutin, umumnya dua hingga tiga kali dalam seminggu, untuk mempertahankan kualitas hidup.
Direktur RSUD Landak, dr. Albertus Geovani, mengatakan saat ini rumah sakit baru memiliki empat unit mesin hemodialisa. Dengan kapasitas tersebut, layanan baru mampu menjangkau sekitar 12 pasien dalam satu pekan untuk satu shift.
“Kalau hanya 12 pasien, tentu masih banyak yang belum terlayani. Karena itu, kami akan berupaya menambah alat dan meningkatkan kapasitas layanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan layanan sangat bergantung pada kesiapan tenaga medis. RSUD Landak saat ini juga tengah menyiapkan pelatihan bagi dokter dan perawat guna mendukung penambahan fasilitas ke depan.
Meski kapasitas masih terbatas, Albertus memastikan pasien peserta BPJS yang menjalani cuci darah di RSUD Landak tidak dikenakan biaya.
“Seluruh biaya ditanggung BPJS Kesehatan, pasien tidak perlu membayar,” tegasnya.
Dengan mulai beroperasinya layanan ini, diharapkan ke depan semakin banyak pasien gagal ginjal di Kabupaten Landak yang dapat menjalani terapi secara rutin tanpa harus keluar daerah.

















