LANDAK – Masyarakat adat dayak Kanayatn di Desa Senakin, Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak, menggelar ritual Nabo’ Panyugu atau Naki Ka’ Panyugu Nek Nese. Minggu, 19 April 2026.
Kegiatan diawali dengan pemberkatan benih padi oleh Pastor Paroki Senakin. Usai pemberkatan benih, kegiatan langsung dilanjutkan dengan arak-arakan menuju lokasi panyugu dengan berjalan kaki.
Alunan bunyi gamelan dayak, gong, serta tetabuhan bedung dan gendang, mengiringi arak-arakan yang dimulai dari halaman gereja Paroki Senakin tersebut.

Pada barisan depan, kelompok topeng atau Nopeng khas Dayak dengan tubuh yang dihias dedaunan memimpin barisan, yang kemudian diikuti rombongan pemikul tandu berisi benih-benih padi maupun hasil pertanian yang akan didoakan di panyugu, termasuk paraga adat yang dibawa oleh Panyangahatn.
Arak-arakan yang melewati kawasan pasar Senakin tersebut juga disaksikan dan diikuti antusias masyarakat yang ikut menari mengikuti alunan musik sampai ke lokasi panyugu atau tempat keramat.

Sesampai di depan lokasi panyugu rombongan disambut tarian tradisional sampai masuk ke area panyugu. Setelah masuk ke lokasi panyugu rombongan mengelilingi tempat keramat sebanyak 3 kali.
Setelah itu kegiatan langsung dilanjutkan prosesi ritual adat yang dipimpin Panyangahatn atau imam doa adat Dayak Kanayatn.
Ketua Panitia, Sugeng menjelaskan, ritual Nabo’ Panyugu ini merupakan upacara sakral masyarakat Dayak Kanayatn untuk menyampaikan doa-doa adat kepada Jubata atau Sang Pencipta terhadap hasil panen padi, memohon perlindungan, termasuk berdoa agar hasil panen di musim berikutnya melimpah.
“Kami pada saat ini melakukan sebuah upacara Nabo’ Panyugu yang dilaksanakan perdana pada tahun ini, karena ini Panyugu baru dibangun kemarin tahun 2025. Panyugu yang dari gunung kita pindahkan ke sini yang namanya Panyugu Nek Nese,” jelas Sugeng.
Meski perdana dilaksanakan dengan rangkaian pawai atau arak-arakan sampai ke panyugu, rangkaian prosesi Roah tahun ini di Desa Senakin yang diikuti 5 dusun tersebut terasa meriah.

Kegiatan ini menurut Sugeng akan menjadi agenda tahunan wajib yang dilaksanakan setiap tanggal 19 April.
“Jadi untuk itu kita harapkan kepada masyarakat Senakin dan masyarakat Dayak khususnya supaya menjunjung tinggi adat istiadat budaya Dayak,” katanya.
Dikatakannya bahwa adat dan budaya perlu untuk terus dilestarikan kepada anak cucu dan diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai penanda identitas masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn.
“Karena kalau orang lain atau bangsa lain itu tidak akan mungkin bisa mengenalkan budaya Dayak ini kalau bukan Dayak itu sendiri,” imbuhnya.

Untuk itu, Sugeng berharap kedepan seluruh masyarakat di Desa Senakin ini khususnya bisa terus saling mendukung dan kompak agar adat dan budaya bisa terus dilestarikan.
Dalam prosesi ritual adat tersebut turut diberikan bingkisan sembako kepada para ibu tunggal sebagai bentuk tali asih untuk saling membantu.
“Dan terus kita memberikan sedikit sumbangan kepada janda-janda atau ibu-ibu yang tidak mampu. Itu sebuah artinya tali kasih dari kita, kebersamaan panitia dan masyarakat Senakin untuk memberikan mereka sumbangan. Karena kita lihat pun mereka itu memang seharusnya kita berikan sumbangan karena mengingat orang-orang sudah tua dan rasa tanggung jawab kita sebagai warga saling mengasihi sesuai dengan firman Tuhan,” imbuhnya.

Sementara, Wakil Bupati Landak, Erani, yang juga hadir di lokasi panyugu menyampaikan apresiasinya atas kegiatan adat masyarakat sebagai bagian dari kearifan lokal dan kekayaan daerah.
“Ini merupakan kearifan lokal dalam rangka kita melestarikan adat budaya. Tadi kita melihat bagaimana semangat kebersamaan dan gotong royong yang sangat membanggakan dan memotivasi kita semua,” tuturnya.
Erani turut berharap, agar kedepan kegiatan ini bisa berlangsung lebih meriah dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Bahkan menurutnya kegiatan ini bisa menjadi potensi menarik kunjungan masyarakat lebih luas tidak hanya di area Desa Senakin saja.
“Sehingga harapan kita kegiatan ini pada masa-masa yang akan datang lebih banyak menjangkau, lebih meriah, bahkan lebih berkualitas. Bahkan tidak menutup kemungkinan ini menjadi event yang banyak dikunjungi oleh banyak orang, bukan cuma sekitar Senakin tapi di luar Senakin yang ada di kabupaten ini,” pungkasnya.

Usai pelaksanaan seluruh rangkaian ritual adat, kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama di lokasi panyugu.
Selain diikuti masyarakat, kegiatan turut diikuti langsung para tokoh masyarakat diantaranya Anggota DPRD Landak, Ropina Herdianti, Kepala Desa Senakin, Kapolsek Sengah Temila, Kepala Puskesmas Senakin, termasuk para tokoh adat.
Selain ritual adat ini kegiatan roah juga dimeriahkan dengan turnamen sepak bola. Sementara kegiatan pesta roah atau silaturahmi ke rumah-rumah akan dilakukan sehari setelah ritual adat.

















