Aksaraloka com, MEMPAWAH – Kematian massal jutaan ikan budidaya keramba di Sungai Mempawah, Kalimantan Barat, kini memunculkan persoalan baru.
Ribuan hingga jutaan bangkai ikan yang dibuang ke aliran sungai menyebabkan pencemaran lingkungan dan aroma busuk yang mengganggu aktivitas warga di sepanjang bantaran sungai.
Pantauan di lapangan menunjukkan bangkai ikan mengapung dan menutupi sebagian permukaan Sungai Mempawah.
Kondisi tersebut menimbulkan bau menyengat yang tercium hingga ke kawasan permukiman.
Salah seorang warga, Erik Maputra, mengaku resah dengan kondisi sungai yang dipenuhi bangkai ikan.
Menurutnya, bau tidak sedap mulai tercium sejak beberapa hari terakhir dan semakin menyengat pada siang hari.
“Bangkai ikan banyak yang mengapung di sungai. Baunya sangat menyengat dan mengganggu warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Erik menuturkan, sebagian masyarakat masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun kondisi saat ini membuat warga khawatir menggunakan air sungai karena diduga telah tercemar.
“Kami khawatir kualitas air menurun. Untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan lainnya menjadi tidak nyaman karena bau dan banyak bangkai ikan yang hanyut,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Udin. Ia berharap pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah penanganan agar bangkai ikan tidak terus menumpuk dan memperparah pencemaran.
“Kalau dibiarkan terlalu lama, dampaknya bisa semakin besar. Selain menimbulkan bau busuk, kami khawatir kualitas air sungai semakin menurun dan berdampak pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Udin, Sungai Mempawah merupakan sumber kehidupan bagi sebagian besar warga.
Karena itu, kondisi sungai yang tercemar menjadi perhatian serius masyarakat.
Warga mendesak pemerintah daerah segera melakukan pembersihan bangkai ikan, memeriksa kualitas air sungai, serta mencari solusi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sebelumnya, jutaan ikan mas dan sebagian ikan nila yang dibudidayakan dalam keramba di Sungai Mempawah dilaporkan mati mendadak.
Dugaan sementara, kematian massal tersebut dipicu perubahan kualitas air yang menyebabkan meningkatnya tingkat keasaman sungai.
Bupati Mempawah, Erlina, mengatakan ikan mas menjadi jenis yang paling terdampak karena lebih sensitif terhadap perubahan kualitas air dibandingkan ikan nila maupun lele.
Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan telah melakukan pemantauan serta pendataan di lokasi terdampak.
Selain mengupayakan bantuan bibit ikan bagi pembudidaya, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang berupa sistem peringatan dini kualitas air, penataan zonasi keramba, dan program pemulihan daerah aliran sungai (DAS).
Erlina juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian Sungai Mempawah dengan tidak membuang sampah maupun limbah ke sungai agar ekosistem tetap terjaga dan kejadian serupa dapat diminimalkan.












