banner 468x60
Sambas

Solar Bersubsidi Langka, Nelayan Jawai Terpaksa Berhenti Melaut

×

Solar Bersubsidi Langka, Nelayan Jawai Terpaksa Berhenti Melaut

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka com, SAMBAS – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi dikeluhkan nelayan di Desa SB Kuala, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas.

Keterbatasan pasokan membuat aktivitas melaut terganggu, bahkan sebagian nelayan terpaksa menghentikan pekerjaannya karena tidak memiliki cukup bahan bakar.

Salah seorang nelayan, Rolidi, mengatakan kebutuhan solar untuk melaut mencapai 30 hingga 40 liter setiap pekan.

Namun, dari salah satu SPBU di Kecamatan Jawai, ia hanya mampu memperoleh sekitar 18 liter solar bersubsidi dalam seminggu.

“Kebutuhan kami 30 sampai 40 liter seminggu, tapi yang didapat hanya sekitar 18 liter. Jelas tidak mencukupi untuk melaut,” ujarnya.

Rolidi mengaku, ketika jatah solar bersubsidi habis, dirinya dihadapkan pada dua pilihan, yakni berhenti melaut atau membeli solar eceran dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Kalau tetap melaut, kami terpaksa beli solar eceran. Harganya sekitar Rp15 ribu sampai Rp16 ribu per liter dan kadang juga sulit didapat,” katanya.

Menurutnya, tingginya harga solar eceran membuat biaya operasional terus membengkak sehingga hasil tangkapan ikan tidak lagi mampu menutupi pengeluaran.

“Kalau terus beli solar eceran, hasil melaut kadang tidak cukup untuk menutup biaya. Kami berharap pemerintah menambah kuota solar bersubsidi agar kebutuhan nelayan bisa terpenuhi,” tuturnya.

Keluhan serupa disampaikan nelayan lainnya, Bustani. Ia mengatakan kebutuhan solar untuk melaut berkisar 4 hingga 5 liter per hari.

Namun, dalam satu minggu dirinya hanya bisa membeli solar bersubsidi senilai sekitar Rp100 ribu di SPBU.

“Dengan jumlah itu, saya hanya bisa melaut sekitar empat hari. Setelah solar habis, saya tidak bisa bekerja lagi karena solar eceran juga sering tidak tersedia,” ungkapnya.

Bustani menegaskan, melaut merupakan satu-satunya mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Karena itu, keterbatasan BBM bersubsidi secara langsung memengaruhi pendapatan nelayan.

Para nelayan berharap pemerintah bersama instansi terkait segera mengevaluasi distribusi dan menambah kuota solar bersubsidi bagi nelayan kecil di Kecamatan Jawai.

Mereka menilai ketersediaan BBM bersubsidi menjadi kebutuhan utama agar aktivitas melaut tetap berjalan dan roda perekonomian masyarakat pesisir tidak terganggu.