LANDAK — Lahan percontohan tanaman kacang kedelai yang dikembangkan melalui program kerja sama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bersama Pemerintah Kabupaten Landak mulai memasuki masa panen.
Panen perdana dilakukan langsung oleh Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, di area UPTD Balai Benih Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Landak, Kecamatan Jelimpo, Sabtu (25/4/2026) pagi.
Kedelai tersebut ditanam dengan sistem tumpang sari bersama ubi kayu (cassava), sebagai bagian dari upaya mencari alternatif komoditas pertanian baru yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani.
Karolin menyebut, percobaan ini menjadi langkah awal untuk menguji kesesuaian tanaman kedelai di wilayah Kabupaten Landak. Menurutnya, harga kedelai di pasaran saat ini cukup menjanjikan, bahkan bisa mencapai Rp20 ribu per kilogram.
“Ini adalah kedelai yang kita coba tanam di Kabupaten Landak untuk memberi contoh dan juga menginspirasi, siapa tahu ada yang berminat untuk menanam kedelai bersama-sama dengan sistem tumpang sari dengan singkong,” ujarnya.
Selain itu, kebutuhan bahan baku kedelai untuk industri lokal juga tergolong tinggi, terutama untuk produksi tahu dan tempe. Permintaan tersebut dinilai akan terus meningkat, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karolin menambahkan, pengembangan kedelai juga sejalan dengan program nasional sektor pertanian yang mencakup komoditas padi, jagung, dan kedelai.
“Padi dan jagung sudah lama kita kembangkan. Sekarang kita dorong kedelai. Mudah-mudahan ada yang berminat untuk mengembangkannya,” katanya.
Ia juga mendorong petani menerapkan sistem tumpang sari terutama dengan ubi kayu jenis cassava agar dapat memperoleh hasil ganda dalam satu lahan.
“Dengan sistem ini, petani tidak perlu mengolah lahan berkali-kali, tapi bisa mendapatkan dua komoditas sekaligus. Harapannya tentu bisa menambah pendapatan dan memberikan lebih banyak alternatif usaha bagi petani,” tambahnya.
Sementara itu, dari hasil uji coba awal, lahan seluas kurang lebih 2 hektare tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 2 hingga 3 ton kedelai. Namun, angka pasti produksi masih akan dihitung melalui metode ubinan.
Keberhasilan panen ini juga tidak lepas dari proses percobaan yang dilakukan beberapa kali. Dari tiga kali percobaan penanaman, dua di antaranya sempat mengalami kegagalan sebelum akhirnya menemukan bibit dan metode perawatan yang tepat.
“Ini percobaan ketiga. Yang sebelumnya belum berhasil, tapi sekarang akhirnya bisa tumbuh. Kuncinya memang di pemilihan bibit dan perawatan yang tepat,” ungkapnya.

Dengan keberhasilan tersebut, pemerintah daerah berencana melanjutkan penanaman kedelai sebagai komoditas alternatif yang potensial dikembangkan di Kabupaten Landak.
Selain sebagai lahan produksi, lokasi percontohan ini juga difungsikan sebagai tempat pembelajaran bagi petani untuk mengetahui teknik budidaya kedelai yang sesuai dengan kondisi daerah setempat.

















