banner 468x60
Lingkungan

Translokasi Orangutan di Kayong Utara, Upaya Redam Konflik Satwa dan Warga

×

Translokasi Orangutan di Kayong Utara, Upaya Redam Konflik Satwa dan Warga

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, KETAPANG – Upaya penyelamatan satwa liar kembali dilakukan di Kalimantan Barat.

Seekor orangutan berhasil dievakuasi dari kawasan perkebunan warga di Kabupaten Kayong Utara setelah sempat memicu kekhawatiran masyarakat.

Aksi penyelamatan ini melibatkan tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Wilayah I Ketapang, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), unsur TNI-Polri, serta masyarakat setempat.

Orangutan tersebut sebelumnya dilaporkan warga Dusun Pemangkat Jaya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir.

Dalam sepekan terakhir, satwa dilindungi itu kerap terlihat dan bahkan menetap di kebun kelapa dan karet milik warga, sehingga menimbulkan kekhawatiran akibat ukuran tubuhnya yang besar serta potensi kerugian ekonomi.

Asisten Manager Orangutan Protection Unit YIARI, Muhadi, menegaskan bahwa langkah translokasi diambil sebagai opsi terakhir setelah berbagai upaya penanganan dilakukan.

“Ini bukan sekadar memindahkan satwa, tetapi mengembalikan orangutan ke habitat alaminya agar aman sekaligus mengurangi potensi konflik dengan manusia,” ujarnya.

Tim gabungan bergerak sejak pagi dan tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati menggunakan senapan bius oleh tim medis YIARI, dengan perhitungan dosis anestesi yang ketat.

Dokter hewan YIARI, drh. Rachel, mengungkapkan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka lama pada wajah dan lengan kiri serta kerusakan pada gigi.

Meski demikian, kondisi tersebut telah pulih dan tidak mengganggu kesehatannya.

“Secara umum sehat dan layak untuk ditranslokasikan,” jelasnya.

Setelah pemeriksaan, orangutan tersebut langsung dibawa ke kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai memiliki habitat ideal dengan perlindungan yang kuat serta ketersediaan pakan yang memadai.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran memakan waktu sekitar dua jam melalui jalur darat dan air.

Setibanya di dalam kawasan hutan, proses pelepasliaran dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat.

Saat dilepas, orangutan menunjukkan perilaku alami dengan segera bergerak menjauh ke dalam hutan—menjadi indikasi kuat bahwa satwa tersebut siap kembali hidup liar.

Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi kerja sama lintas pihak dalam operasi tersebut.

“Translokasi ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan satwa sekaligus mengurangi konflik dengan manusia. Sinergi semua pihak sangat penting untuk menjaga kelestarian orangutan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga kawasan konservasi.

“Tugas kami memastikan kawasan ini tetap aman dan nyaman bagi orangutan serta satwa liar lainnya,” ujarnya.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, turut menyoroti perubahan tata guna lahan sebagai salah satu pemicu utama konflik antara manusia dan satwa liar.

“Orangutan bukan pendatang. Mereka sudah lebih dulu hidup di wilayah ini, sementara manusia yang masuk ke habitat mereka. Karena itu, penting bagi kita untuk belajar hidup berdampingan,” katanya.

Ia berharap pemerintah dan sektor swasta dapat mendorong perencanaan tata ruang yang lebih terintegrasi, guna meminimalisir konflik serupa di masa mendatang.

Translokasi ini menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian alam bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.