banner 468x60
Peristiwa

Aksi Mahasiswa di Pontianak Tolak Zulfydar Zaidar, Orator Solmadapar: Dewan Ini Cari Panggung

×

Aksi Mahasiswa di Pontianak Tolak Zulfydar Zaidar, Orator Solmadapar: Dewan Ini Cari Panggung

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, PONTIANAK – Momen tak biasa terjadi dalam aksi demonstrasi mahasiswa di Bundaran Digulis Universitas Tanjungpura, Kamis (18/6).

Anggota DPRD Kalimantan Barat dari PAN, Zulfydar Zaidar Mochtar, yang datang ke lokasi aksi justru ditolak mahasiswa untuk berbicara di atas mimbar demonstrasi.

Alih-alih disambut sebagai wakil rakyat, kehadiran Zulfydar malah memantik sindiran keras dari massa aksi.

Mahasiswa menilai kedatangan politisi tersebut terkesan hanya ingin mencari panggung di tengah demonstrasi yang sedang menyita perhatian publik.

Di hadapan ratusan peserta aksi, salah seorang orator dari Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Kalbar (Solmadapar), Hajime, secara terbuka meminta massa tidak memberikan kesempatan kepada anggota dewan tersebut untuk berorasi.

“Dewan ini cari panggung. Dulu kami demo di DPRD tidak ada yang nongol. Kita jangan kasih mereka panggung. Kita saja yang berorasi. Biar dewan-dewan ini dengar. Itu pun kalau mereka dengar,” teriak Hajime yang langsung disambut sorakan dan tepuk tangan peserta aksi.

Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan mahasiswa terhadap lembaga legislatif yang dinilai kurang responsif terhadap berbagai persoalan yang mereka suarakan selama ini.

Bagi massa aksi, kehadiran anggota DPRD saat demonstrasi berlangsung tidak otomatis menghapus kesan bahwa wakil rakyat kerap sulit ditemui ketika aspirasi disampaikan melalui jalur resmi.

Meski berada di tengah kerumunan massa, Zulfydar tidak mendapat kesempatan menyampaikan pidato maupun tanggapan atas tuntutan yang disuarakan mahasiswa.

Aksi tetap berjalan sesuai agenda yang telah disusun peserta demonstrasi.

Dalam orasi yang sama, mahasiswa juga mengingatkan posisi anggota dewan sebagai wakil rakyat yang seharusnya lebih mendahulukan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan politik.

“Di situ sudah jelas, atasan bapak-bapak itu rakyat, bukan partai,” ujar Hajime.

Aksi di Bundaran Digulis diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan di Kalimantan Barat.

Mereka membawa sejumlah tuntutan terkait tingginya harga kebutuhan pokok, kondisi ekonomi masyarakat, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kritik terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Penolakan terhadap Zulfydar menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian selama aksi berlangsung.

Di tengah derasnya kritik yang disuarakan mahasiswa, wakil rakyat yang datang ke lokasi justru diminta lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Bagi para demonstran, yang dibutuhkan bukan kehadiran simbolis di tengah kerumunan massa, melainkan keberanian memperjuangkan aspirasi rakyat saat berada di ruang sidang dan pengambilan kebijakan.