Aksaraloka.com, KETAPANG- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kawasan Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang.
Api yang berada sekitar 1 kilometer dari lokasi memaksa tim gabungan bergerak cepat agar kobaran tidak menjalar ke fasilitas rehabilitasi dan habitat satwa.
Hingga Rabu (22/7), Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri dari BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung YIARI dan PT MoPaKha masih berjibaku memadamkan api.
BNPB bahkan mengerahkan helikopter water bombing untuk menjinakkan titik-titik api yang sulit dijangkau dari darat.
Berdasarkan pendataan sementara, kebakaran yang pertama kali terdeteksi di Jalan Ketapang-Tanjungpura Km 5 itu telah melahap sekitar 15 hektare lahan.
Kondisi cuaca yang kering dan angin yang cukup kencang membuat api berpotensi terus meluas.
YIARI langsung mengaktifkan prosedur tanggap darurat. Seluruh orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi dipastikan masih dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh dokter hewan serta animal keeper.
“Keselamatan satwa yang sedang menjalani rehabilitasi menjadi prioritas utama kami. Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orangutan dan satwa lainnya tetap aman,” kata Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting.
Menurut Argitoe, kebakaran hutan bukan hanya mengancam orangutan dan habitatnya, tetapi juga keselamatan masyarakat serta kelestarian hutan yang menjadi penyangga kehidupan.
Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, menegaskan seluruh unsur terus memperkuat koordinasi agar api segera dapat dikendalikan.
“Sinergi seluruh pihak di lapangan terus diperkuat agar api dapat segera dikendalikan. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan jika menemukan titik api,” ujarnya.
Selain mengancam kawasan konservasi, asap karhutla juga berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Dokter spesialis mikrobiologi di Ketapang, dr. Simon Yosonegoro Liem, mengingatkan paparan asap dapat memicu iritasi, memperburuk gangguan pernapasan, hingga meningkatkan risiko ISPA, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma.
Petugas masih terus melakukan pemadaman dan pemantauan di lapangan.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar agar kebakaran tidak semakin meluas dan mengancam kawasan hutan maupun satwa liar.











