LANDAK — Suasana perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pal 20, Dusun Ladangan, Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Senin (17/8/2026) sore, berlangsung berbeda.
Bukan sekadar lomba balap karung atau panjat pinang, puluhan warga justru beramai-ramai turun ke sebuah kolam ikan di pinggir jalan raya untuk mengikuti lomba “Nyamah”.
Nyamah merupakan kegiatan menangkap ikan menggunakan cara tradisional dengan alat tangkap silamo, salah satu alat tangkap ikan khas masyarakat Dayak Kanayatn.

Sejak perlombaan dimulai, warga yang berada di sekitar kolam tak henti-hentinya bersorak. Suasana semakin riuh ketika peserta berhasil menangkap ikan berukuran besar.
Di dalam kolam, para peserta terlihat sibuk bergerak dari tengah menuju tepian kolam, bahkan menyusuri sudut-sudut kolam untuk mencari ikan yang menjadi buruan.

Penyelenggara lomba, Agus Mangkuas, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus menghidupkan kembali suasana kebersamaan di tengah masyarakat.
“Yang kami lombakan hari ini khusus untuk orang tua. Kami adakan kegiatan Nyamah, atau bahasa kami Nyamah untuk nanggok ikan. Kategorinya bebas dan umum, tidak hanya untuk kampung ini, dari luar kampung juga boleh,” ujar Agus.
Kolam yang digunakan dalam perlombaan merupakan milik Agus. Sebelumnya, kolam tersebut memang digunakan untuk memelihara berbagai jenis ikan.

Ide menggelar lomba muncul setelah Agus bersama warga melakukan rembuk. Peserta dikenakan kontribusi Rp50.000. Uang yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli ikan tambahan dan seluruhnya kembali dimasukkan ke dalam kolam.
“Semua kami masukkan, itu tanpa kami potong-potong karena memang untuk memeriahkan acara 17 Agustus ini,” katanya.
Ikan yang berada di kolam tersebut di antaranya lele, patin, nila, dan bawal. Sementara ikan tambahan yang dibeli dari uang peserta didominasi ikan lele.
Menurut Agus, lomba Nyamah sebenarnya sudah lama terpikirkan. Namun, momentum peringatan kemerdekaan menjadi kesempatan untuk mewujudkannya.
“Intinya memang mau bikin suka-suka. Karena ini berhubungan dengan ulang tahun kemerdekaan, kami berpikir, ya sudahlah kita kumpulkan saja. Kita punya kolam, punya medianya, jadi langsung eksekusi,” ujarnya.
Pelaksanaan lomba juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat setempat hingga tokoh masyarakat dan sponsor.

Untuk menentukan pemenang, peserta dinilai berdasarkan jumlah hasil tangkapan ikan. Ikan yang diperoleh kemudian ditimbang untuk menentukan juara pertama, kedua, dan ketiga.
Menariknya, ikan yang berhasil ditangkap peserta tidak hanya menjadi milik pemenang. Agus memastikan seluruh peserta boleh membawa pulang ikan yang mereka dapatkan, meskipun tidak masuk sebagai juara.
“Semua ikan yang didapat murni dibawa pulang. Tidak ada ditimbang, tidak ada lagi dibayar. Silakan dibawa pulang,” katanya.

Pada pelaksanaan perdana ini, sebanyak 56 peserta tercatat mendaftar. Namun, tiga peserta berhalangan hadir sehingga jumlah peserta yang mengikuti lomba sekitar 53 orang.
Lomba Nyamah berlangsung selama sekitar satu jam. Setelah itu, ketinggian air kolam diturunkan agar peserta lebih mudah menangkap ikan.

Selain Nyamah, warga juga menggelar sejumlah perlombaan lainnya. Anak-anak mengikuti lomba makan kerupuk dengan jumlah peserta lebih dari 40 siswa sekolah dasar. Ada pula lomba membuat dan menjalankan perahu berbahan dasar barang bekas dan limbah.
Bagi Agus, rangkaian perlombaan tersebut bukan sekadar mencari pemenang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi cara warga memanfaatkan apa yang mereka miliki untuk menciptakan hiburan sekaligus mempererat kebersamaan dalam memperingati kemerdekaan.
Di tengah riuh sorak warga dan kesibukan peserta memburu ikan, lomba Nyamah pun menjadi warna tersendiri dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Pal 20 Landak.

















