LANDAK – Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengikuti panen perdana penangkaran benih padi jenis Inpari 32 di Dusun Berinang Lesung, Desa Ringo Lojok, Kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Jumat (25/9/2026).
Panen tersebut dilakukan di lahan sawah seluas 0,6 hektare milik petani binaan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).
Benih yang ditanam merupakan padi Inpari 32 berlabel ungu yang dikembangkan melalui program pendampingan P4S. Hasil panen nantinya diharapkan dapat kembali dimanfaatkan sebagai benih oleh petani di Desa Ringo Lojok dan wilayah sekitarnya.

Karolin mengatakan, menjadi penangkar benih tidak mudah karena hasil yang diperoleh harus memenuhi sejumlah standar sebelum dapat digunakan dan dipasarkan sebagai benih.
“Merawat dan menghasilkan benih itu tidak mudah. Nanti saat menjemur ada alat pengukur kekeringan, kadar air, dan segala macam. Semua harus memenuhi standar,” kata Karolin saat memberikan sambutan seusai panen.
Menurut dia, kebiasaan petani menggunakan benih dari hasil panen sebelumnya secara berkali-kali perlu mulai diubah. Penggunaan benih unggul dinilai penting karena kualitas benih turut menentukan hasil produksi pertanian.
Karolin meminta masyarakat tidak ragu mengeluarkan biaya untuk membeli benih unggul yang telah memenuhi standar.
“Kalau Ibu/Bapak bersawah dan memilih padi unggul, harus pilih benih yang bagus. Tentulah harus bermodal,” ujarnya.
Dorong desa mandiri benih
Karolin juga mengapresiasi inisiatif P4S yang membangun penangkaran benih di tingkat desa. Menurut dia, keberadaan penggerak lokal penting untuk memperkuat pembangunan pertanian, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan infrastruktur.
“Kita perlu motor-motor lokal. Terima kasih untuk Romo dan seluruh tim paroki yang bersedia turun langsung di tengah masyarakat,” kata Karolin.
Ia berharap usaha penangkaran benih tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan. Benih yang dipanen tersebut direncanakan dijual kepada petani di sekitar dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Harga tersebut menurut Karolin sangatlah murah. Namun menurutnya, harga benih yang murah memang dapat membantu petani, tetapi keberlanjutan usaha penangkar juga harus diperhatikan.
“Ke depan tentu harus dipikirkan pola skema yang subsidi silang atau apa pun namanya. Jangan Rp 10.000 terus, harus juga ada untungnya mereka yang mengerjakan pembibitan. Kalau tidak, nanti tidak sustain, tidak berkelanjutan,” tuturnya.

P4S targetkan desa mandiri benih
Pembina petani sekaligus Ketua P4S, Romo Arsensius, mengatakan program penangkaran benih tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi tanaman padi petani yang tidak seragam.
Menurut dia, dalam satu hamparan sawah kerap ditemukan tanaman padi dengan pertumbuhan berbeda-beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah.
Setelah ditelusuri, salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan penggunaan benih.
“Ketika bertanya benih padi itu dari mana, lima tahun lalu, enam tahun lalu dibagi oleh pemerintah dan turun-temurun dipergunakan,” kata Arsensius.
Bersama seorang agronom, Sinambela, Arsensius kemudian mengembangkan gagasan agar setiap desa memiliki penangkar benih lokal sehingga dapat memenuhi kebutuhan benih secara mandiri.
“Kalau bisa di setiap desa itu ada pembenih lokal yang nantinya desa itu mandiri benih padi, itu harapannya,” ujarnya.
Program tersebut kini dikembangkan di sejumlah lokasi. Selain di Desa Ringo Lojok, P4S juga melakukan pendampingan di Sungai Raya Ketiap dengan jenis padi Inpago 13 Fortiz.
Di Desa Ringo Lojok, penanaman dilakukan di empat lokasi dengan melibatkan sejumlah petani.
Arsensius mengatakan, hasil panen dari penangkaran tersebut nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan benih masyarakat Desa Ringo Lojok. Jika produksinya mencukupi, benih dapat disalurkan ke desa lain di Kecamatan Banyuke Hulu maupun wilayah Kabupaten Landak.
“Tujuan kami supaya Desa Ringo Lojok ini punya benih padi unggul. Kami mengupayakan jenis unggul ini ditanam oleh beberapa orang, supaya nanti hasil panen ini dapat dipakai untuk masyarakat di desa ini,” katanya.
Selain menyediakan benih, P4S juga melakukan pendampingan kepada petani melalui grup WhatsApp dan kunjungan langsung ke lokasi.
“Visi kami memang menuju desa mandiri benih,” kata Arsensius.
Di akhir kegiatan Bupati Landak turut menyerahkan bantuan kepada kelompok tani berupa satu unit Power Thresher.

















