banner 468x60
Komunitas

LMS 2026, Kemenko Perekonomian Apresiasi Upaya Penguatan Ekosistem Media Lokal

×

LMS 2026, Kemenko Perekonomian Apresiasi Upaya Penguatan Ekosistem Media Lokal

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengapresiasi penyelenggaraan Local Media Summit (LMS) 2026 yang digelar Suara.com bersama International Media Support (IMS). Forum ini dinilai menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kemandirian dan keberlanjutan industri media lokal di tengah transformasi digital.

Apresiasi tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, saat menghadiri hari kedua LMS 2026 di Manhattan Hotel Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Haryo hadir mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Dalam sambutannya, Haryo menyampaikan apresiasi kepada Suara.com dan IMS atas inisiatif menghadirkan forum yang mendorong kolaborasi sekaligus memperkuat ekosistem industri media lokal.

Menurut dia, tema LMS 2026, Beyond Reach from Discovery to Community Trust and Sustainability, relevan dengan tantangan media di era digital.

Media lokal, kata Haryo, tidak cukup hanya memperluas jangkauan informasi. Media juga perlu membangun kepercayaan publik, memperkuat komunitas, serta menciptakan peluang ekonomi di daerah masing-masing.

“Media lokal diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan informasi tetapi juga membangun kepercayaan, memperkuat komunitas dan menciptakan peluang ekonomi bagi pelaku usaha di daerahnya masing-masing,” kata Haryo.

Ia menilai perkembangan penggunaan internet di Indonesia membuka peluang bagi media lokal untuk mengembangkan bisnis, terutama melalui promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pariwisata, serta potensi unggulan daerah.

Haryo menyebut jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 235 juta pada 2026. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan media lokal untuk memperluas pasar melalui pemasaran digital, produksi konten kreatif, dan kegiatan berbasis komunitas.

“Dengan 235 juta pengguna internet pada 2026, media lokal tentu berpeluang memperluas promosi produk UMKM-nya, pariwisata, dan potensi keunggulan daerah. Kemitraan dapat dikembangkan melalui pemasaran digital, produksi konten kreatif, dan kegiatan komunitas sebagai sumber pendapatan baru dari media lokal,” ujarnya.

Haryo berharap LMS 2026 menghasilkan kolaborasi dan langkah konkret untuk memperkuat kemandirian industri media lokal.

Ia juga mendorong media tetap berinovasi tanpa mengabaikan kepercayaan publik sebagai modal utama dalam menghadapi persaingan.

“Dengan semangat inovasi dan tetap menjaga kepercayaan publik, media lokal diharapkan semakin berdaya saing dan mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional itu sendiri,” kata Haryo.

Media Lokal Dituntut Beradaptasi

Local Media Summit merupakan kegiatan berkelanjutan yang digagas Suara.com sejak 2022. Forum ini bertujuan mendorong jurnalis dan media lokal agar terus berkembang melalui berbagai program pelatihan, pendampingan, dan penguatan kapasitas newsroom.

CEO sekaligus Editor-in-Chief Suara.com, Suwarjono, mengatakan LMS tidak hanya menghadirkan konferensi, tetapi juga memberikan ruang pembelajaran bagi media lokal.

“Kami menggelar berbagai workshop, training, coaching, juga masuk ke level media-media newsroom,” kata Suwarjono saat pembukaan LMS 2026 di Manhattan Hotel Jakarta, Kamis (22/10/2026).

LMS 2026 berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, kegiatan diisi workshop, konferensi, talkshow, dan networking night.

Sementara hari kedua menghadirkan keynote speech, learning session, serta talkshow yang membahas pengembangan media, keamanan digital, pengelolaan komunitas, hingga peluang bisnis.

Dalam sesi pembelajaran bertajuk Beyond Social Media Management (Content – Development – Monetization), Yekti Hesti Murti dari UNESCO membahas kebebasan berekspresi dan tanggung jawab media dalam ruang digital.

Ia menjelaskan, prinsip kebebasan berekspresi, kebebasan pers, keselamatan jurnalis, dan pengembangan media tetap berlaku dalam aktivitas jurnalistik, baik di ruang nyata maupun digital.

“Freedom of expression di kedua ruang ini sama. Tidak ada pembedanya,” jelasnya.

Yekti juga menyoroti tantangan penyebaran ujaran kebencian atau hate speech yang dapat memicu konflik sosial.

Menurut dia, ujaran kebencian berkaitan dengan berbagai identitas, termasuk gender, ras, etnis, dan identitas sosial. Dalam konteks jurnalistik, penyebaran propaganda perang juga perlu dibatasi karena berpotensi memperbesar kerusakan dan mengancam perdamaian.

Keamanan Digital dan Pengembangan Bisnis

Penguatan kapasitas media lokal juga dibahas dalam sesi Digital Assets and Security For Young Content Creators.

Direktur Eksekutif Safenet, Nenden Sekar Arum, mengingatkan pentingnya menjaga keamanan aset digital agar hasil kerja kreator dan media tidak menjadi sasaran peretasan maupun kejahatan siber.

Sementara itu, Direktur Bisnis Berita Jatim, Saptini Darmaningrum, dalam sesi How to Manage Community & Regional Event menekankan pentingnya membangun hubungan dengan komunitas dan mitra bisnis.

Menurut Saptini, traffic media online dapat mengalami kenaikan maupun penurunan. Karena itu, media perlu menjaga relasi dengan industri, pemerintah, dan klien untuk membuka peluang kerja sama serta sumber pendapatan.

Peluang pengembangan bisnis juga dibahas dalam sesi Beyond Search: From SEO to GEO Adaptation yang menghadirkan Head of Tech Development Suara.com, Andrei Bhayu.

Ia menjelaskan, pengembangan layanan optimasi mesin pencari (SEO) dapat menjadi peluang monetisasi bagi media, termasuk melalui jasa konsultasi, pendampingan, dan pengembangan visibilitas digital.

Dalam sesi tersebut, media juga didorong memahami perkembangan pencarian digital serta kebutuhan klien agar dapat mengembangkan layanan yang lebih relevan.

Media Muda dan Ekosistem Informasi

LMS 2026 turut memberikan ruang bagi media muda melalui sesi Pitch Youth Media yang dipandu Eva Danayanti, Country Manager IMS Indonesia sekaligus dosen Universitas Media Nusantara (UMN).

Empat kelompok mempresentasikan media yang mereka kembangkan, dengan berbagai fokus pemberitaan, mulai dari politik, perawatan satwa, hingga informasi lalu lintas.

Pada talkshow Youth Media in the Future of Sustainable Information Ecosystem, Founder The Tribes, Yodan Pranata, Representatif Ultimagz-UMN, Kezia Laurencia, dan Founder ISMN, Arif Budianto, membahas masa depan media muda dalam ekosistem informasi.

Yodan menekankan pentingnya identitas dan standar jurnalistik bagi media yang berkembang di luar struktur media arus utama.

Sementara Arif mendorong media muda untuk tidak takut bertransformasi maupun berkolaborasi.

Ia mengatakan, media yang berkembang secara independen memiliki kemampuan beradaptasi dengan audiens. Karena itu, pendekatan edukasi jurnalistik diperlukan agar media tersebut dapat tumbuh menjadi bagian dari ekosistem informasi yang kredibel.

Arif juga berharap kolaborasi dan penguatan kapasitas dapat membantu menjaga keberlanjutan ekosistem media di masa mendatang.

Pendapatan Media Berbasis Komunitas

Persoalan keberlanjutan bisnis menjadi salah satu pembahasan utama dalam konferensi penutup bertajuk Beyond Media Business: Innovative Local Wisdom Revenue Model.

Sesi tersebut menghadirkan Pemimpin Redaksi Pantura Post, Muhammad Abduh, Wiwi dari Pontianak Info Media, CEO Sukabumi Update, Annisa Rahmatillah, serta CEO BlokBojonegoro, Abdul Qohar.

Para pembicara berbagi pengalaman mengembangkan media melalui website, media sosial, dan kegiatan komunitas.

Mereka juga membahas perjalanan membangun audiens loyal serta tantangan mempertahankan bisnis media sebelum memperoleh basis pembaca yang kuat.

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menyebut kebutuhan pengiklan mulai berkembang. Pengiklan tidak hanya melihat jumlah traffic, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik audiens, relevansi komunitas, dan keterhubungan dengan produk yang dipasarkan.

Media lokal dinilai memiliki peluang mengembangkan sumber pendapatan melalui berbagai platform dan kegiatan, termasuk penyelenggaraan event.

Dengan pendekatan tersebut, media tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai penghubung antara komunitas, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.

Para pembicara menilai kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan media, bukan semata-mata ukuran atau besarnya perusahaan.

Penyelenggaraan LMS 2026 didukung sejumlah perusahaan dan institusi, antara lain BRI, PT Freeport Indonesia, PLN, Bank Mandiri, Astra International, SKK Migas, Pertamina Hulu Rokan, Darya-Varia Laboratoria, GoPay, Gojek, VinFast, Telkom Indonesia, Chandra Asri, Pegadaian, Adaro, PNM, United Tractors, Amartha, Kara, Toffin, Cimory, Frisian Flag, serta sejumlah mitra lainnya.