banner 468x60
Ekonomi

Anyaman Pandan Sukadana Dibidik Jadi Ikon Kerajinan Pesisir Kalbar

×

Anyaman Pandan Sukadana Dibidik Jadi Ikon Kerajinan Pesisir Kalbar

Sebarkan artikel ini

SUKADANA – Motif biota laut, karakter geografis pesisir, hingga cerita lokal Kalimantan berpeluang menjadi identitas khas kerajinan anyaman pandan dari Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Inovasi desain dinilai dapat meningkatkan nilai jual produk tradisional sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.

Peluang tersebut disampaikan CEO dan Founder Kampoeng Anyaman, Danang Sudrajat, dalam program Penguatan Potensi UMKM Lokal bertema Mengembangkan Keterampilan Anyaman Menjadi Peluang Usaha. Kegiatan yang diinisiasi Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) bersama Kompas Lestari dan Kampoeng Anyaman itu berlangsung pada 17–20 Oktober 2026 di Hotel Mahkota Sukadana.

Danang mengatakan, anyaman pandan Kayong Utara memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari tas dan tempat tisu hingga dekorasi rumah (home decor) dan perlengkapan hotel (hotel amenities).

Menurut dia, penguatan identitas lokal dapat menjadi pembeda di tengah persaingan produk kerajinan. Karakter pesisir, ornamen biota laut, dan cerita lokal Kalimantan bisa diterjemahkan ke dalam motif, pilihan warna, serta desain produk yang lebih modern.

“Produk anyaman Kayong Utara memiliki variasi dan potensi untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tambah. Salah satu peluangnya memperkuat identitas produk melalui inspirasi dari karakter geografis pesisir, ornamen biota laut, serta cerita lokal Kalimantan,” katanya.

Meski demikian, inovasi desain perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas, kerapian, dan konsistensi produksi. Aspek tersebut menjadi penting agar produk perajin mampu memenuhi standar dan kebutuhan pasar yang lebih luas.

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Hilaria Yusnani, menilai potensi kerajinan anyaman Kayong Utara perlu diikuti dengan perluasan akses pemasaran.

“Selama ini penjualan masih sebatas person-to-person dan hanya segelintir perajin yang pernah mengikuti pameran. Sangat disayangkan apabila potensi sebesar ini tidak dikembangkan ke pasar yang lebih luas,” ujar Hilaria.

Salah seorang perajin anyaman pandan asal Sukadana, Safarida, atau akrab disapa Bu Ida, menjadi bagian dari peserta program tersebut. Ia telah menekuni keterampilan menganyam sejak sekolah dasar.

Pengalamannya menghasilkan beragam produk, mulai dari tikar pandan hingga tas, tempat tisu, kopiah, dan tanjak. Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa keterampilan tradisional ini dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan konsumen tanpa meninggalkan teknik dasar menganyam.

External Relations Manager KIPP, Sugeng Sulistiyo, mengatakan penguatan kapasitas UMKM merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal menjadi peluang usaha.

“Melalui program ini, KIPP ingin mendukung para perajin agar tidak hanya mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memahami cara mengelola usaha dan memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Harapannya, kerajinan anyaman lokal semakin dikenal, memiliki daya saing, dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat,” ujar Sugeng.

Melalui program tersebut, KIPP berharap perajin anyaman pandan Kayong Utara dapat memperkuat inovasi desain, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas pemasaran. Dengan demikian, warisan keterampilan tradisional tidak hanya terjaga, tetapi juga berkembang menjadi sumber ekonomi masyarakat yang berdaya saing.