SINTANG — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah wilayah perhuluan Kalimantan Barat mendapat perhatian serius Gubernur Ria Norsan.
Menyikapi keluhan masyarakat akibat pasokan tersendat dan harga eceran melonjak, Norsan langsung berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) untuk mempercepat pemulihan distribusi.
Langkah tersebut, kata Norsan, merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Kalbar dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi serta menjaga stabilitas harga di daerah.
Ia menjelaskan, hambatan distribusi dipicu kondisi air sungai yang surut sehingga ponton pengangkut BBM tidak dapat merapat ke titik bongkar muat. Pendangkalan alur sungai dan munculnya hamparan pasir turut memperlambat penyaluran ke wilayah hulu.
“Di Kabupaten Sanggau, ponton besar tidak bisa merapat karena air surut dan di tengah sungai ada pasir. Ini yang menyebabkan distribusi tersendat,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Kondisi tersebut sempat mengganggu pasokan dan memicu lonjakan harga BBM di tingkat eceran, bahkan dilaporkan mencapai Rp50.000 per liter di beberapa lokasi.
Menanggapi situasi itu, Norsan menegaskan telah meminta Pertamina segera mengambil langkah konkret agar distribusi kembali normal. Menurut dia, stabilitas pasokan energi menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi masyarakat di wilayah hulu yang sangat bergantung pada jalur sungai.
Namun demikian, ia memastikan kondisi mulai berangsur membaik. Dua ponton besar dilaporkan telah berhasil masuk dan melakukan bongkar muat, kemudian distribusi dilanjutkan menggunakan mobil tangki untuk mempercepat penyaluran ke masyarakat.
“Alhamdulillah sudah ada dua ponton yang masuk. Distribusi dilanjutkan lewat mobil tangki agar pasokan cepat sampai,” katanya.
Norsan optimistis distribusi BBM dan gas akan kembali normal dalam waktu dekat. Ia menargetkan pekan depan pasokan stabil dan harga kembali sesuai ketentuan.
Pemerintah provinsi, lanjutnya, akan terus memantau distribusi energi serta memperkuat koordinasi dengan Pertamina agar kendala serupa tidak terulang, terutama saat terjadi pendangkalan sungai ekstrem.

















