Aksaraloka.com, PONTIANAK — Momentum peringatan 45 tahun Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menjadi refleksi penting bagi para pelaku industri sawit untuk memperkuat sinergi dalam menghadapi dinamika regulasi dan tantangan global sektor perkebunan.
Dalam rangkaian peringatan tersebut, GAPKI Kalimantan Barat menggelar buka puasa bersama serta menyerahkan tali asih kepada perwakilan panti asuhan dan marbot masjid.
Kegiatan ini berlangsung di Hotel Mercure Pontianak, Jumat (27/2/2026).
Ketua GAPKI Kalimantan Barat, Aris Supratman, menegaskan bahwa pelaku usaha sawit saat ini perlu meningkatkan kekompakan agar industri tetap berjalan baik, berkelanjutan, serta memiliki daya saing menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Momentum 45 tahun GAPKI ini membuat kita kembali mencermati situasi dan regulasi industri sawit. Pelaku usaha harus lebih kompak dan bersinergi agar sawit berkelanjutan dan tetap berdaya saing,” ujar Aris kepada wartawan.
Menurutnya, selama 45 tahun perjalanan organisasi, GAPKI telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung pembangunan nasional, termasuk pada masa pandemi Covid-19 ketika sektor sawit menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional.
Ia menyebutkan, saat ini GAPKI bersama pelaku industri terus mendorong berbagai riset guna meningkatkan produktivitas sawit untuk menjawab kebutuhan produk turunan di masa mendatang.
“Pemerintah dan GAPKI terus mencari peluang agar industri sawit dan turunannya tetap eksis serta mampu mendukung ekonomi nasional,” katanya.
Di Kalimantan Barat, meski perusahaan anggota GAPKI baru sekitar 20 persen dari total pelaku usaha sawit, keberadaan organisasi tersebut dinilai penting oleh pemerintah daerah, terutama dalam mempermudah koordinasi terkait kebijakan dan regulasi industri.
Aris menjelaskan, koordinasi yang baik antara pelaku usaha dan pemerintah diharapkan mampu menciptakan industri sawit yang memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain itu, sejumlah perusahaan anggota GAPKI yang telah memiliki pasar ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya terus didorong untuk menjaga keberlanjutan ekspor.
Langkah tersebut dinilai penting karena sektor ekspor sawit berkontribusi besar terhadap peningkatan devisa negara.
“Kami berharap pelaku usaha lainnya juga dapat saling mendukung agar Kalimantan Barat benar-benar menjadi salah satu penyumbang utama produk sawit nasional,” jelasnya.
GAPKI Kalbar juga terus mengingatkan perusahaan perkebunan untuk memenuhi berbagai regulasi, khususnya terkait sertifikasi ekspor.
Sertifikasi tersebut menjadi indikator bahwa perusahaan telah memenuhi standar lingkungan, ketenagakerjaan, serta kepatuhan regulasi lainnya.
“Perusahaan yang telah memiliki sertifikasi tentu menunjukkan kepatuhan terhadap aturan. Ini penting untuk menciptakan iklim investasi yang sehat dan menjadikan Kalbar sebagai tujuan investasi,” pungkas Aris.

















