Aksaraloka.com, Kubu Raya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan masyarakat.
Kali ini, keluhan datang dari para orang tua siswa yang menilai menu yang diberikan kepada anak-anak masih jauh dari standar pemenuhan gizi dan tidak sebanding dengan anggaran yang tersedia.

Sekitar 50 perwakilan orang tua siswa SD Negeri 41 Sungai Ambawang mendatangi langsung dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Ping Sutirahayu Berkah yang berlokasi di Perumnas IV, Jalan Sekayam Raya No. 45, Desa Ampera Raya, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (4/3/2026) pagi.
Kedatangan mereka bertujuan meminta penjelasan terkait menu MBG yang dinilai tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak sekolah.
Koordinator aksi, Evi, mengatakan para orang tua merasa perlu menyampaikan langsung keluhan kepada pihak dapur SPPG setelah melihat komposisi menu yang dianggap tidak memenuhi kebutuhan gizi anak.
Bayangkan saja dalam satu paket menu ada yang berisi hanya satu butir telur, empat buah kurma, setengah potong tahu isi, dan tiga potong kecil ubi yang dilumuri gula merah. Apakah ini bisa disebut layak dan bergizi untuk anak-anak?
Hal senada juga disampaikan Melani, salah satu orang tua siswa yang ikut dalam aksi tersebut.
Ia menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk menolak program pemerintah, melainkan meminta adanya perbaikan kualitas menu yang disesuaikan dengan anggaran yang telah ditetapkan.

“Kami tidak menolak program pemerintah. Kami hanya meminta kualitas menu diperbaiki. Selama ini menu yang diberikan menurut kami kurang baik, padahal anggaran untuk program ini sudah ada,” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak bagian gizi dapur SPPG Yayasan Ping Sutirahayu Berkah menyatakan bahwa selama ini penyusunan menu telah mengikuti aturan dan pedoman pemenuhan gizi yang ditetapkan pemerintah.
Meski demikian, mereka mengaku terbuka terhadap masukan dari masyarakat.
“Selama ini kami menjalankan aturan sesuai arahan pemerintah. Namun jika ada masukan dari masyarakat terkait menu yang diberikan, tentu akan menjadi perhatian kami ke depan,” ujar perwakilan bagian gizi SPPG.
Aksi para orang tua siswa tersebut berlangsung tertib dan mendapat pengamanan dari aparat setempat, di antaranya Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Dusun, serta sejumlah Ketua RT dan RW di wilayah Perumnas IV.
Bhabinkamtibmas Desa Ampera Raya, Aiptu Limando Nainggolan, SH, mengapresiasi para orang tua siswa yang menyampaikan aspirasi secara damai.
Ia berharap pertemuan antara perwakilan orang tua dan pihak dapur SPPG dapat menghasilkan solusi yang baik sehingga penyajian menu MBG ke depan dapat lebih sesuai harapan.
“Semoga setelah pertemuan ini ada keselarasan antara masyarakat dan pihak dapur SPPG, sehingga menu yang diberikan kepada anak-anak dapat lebih memuaskan,” ujarnya.

Dalam Pantauan KPK
Persoalan program MBG juga tengah menjadi perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Lembaga antirasuah tersebut saat ini sedang memetakan potensi celah korupsi dalam pelaksanaan program, termasuk dugaan praktik mark up atau penggelembungan harga bahan baku pangan untuk dapur SPPG.
Melalui fungsi pencegahan, KPK tengah melakukan kajian untuk mengidentifikasi titik-titik rawan korupsi dalam program tersebut.
Hasil kajian itu nantinya akan berisi sejumlah rekomendasi yang akan disampaikan kepada para pemangku kepentingan agar potensi penyimpangan dapat dicegah sejak dini.














