Aksaraloka.com, KALBAR – Seekor penyu sisik yang tak sengaja tersangkut jaring nelayan di perairan Pulau Panjang, Kabupaten Kubu Raya, akhirnya bisa kembali “pulang” ke habitatnya.
Setelah dirawat selama empat hari, satwa laut yang populasinya terus menyusut itu dilepasliarkan kembali ke laut lepas di perairan utara Jungkat, Kalimantan Barat.
Momen pelepasliaran berlangsung penuh haru. Penyu yang sempat dievakuasi dalam kondisi tubuh dipenuhi teritip itu perlahan dilepas dari kapal pengawas hingga kembali berenang bebas menuju lautan.
Penyu tersebut sebelumnya ditemukan nelayan pada 17 Juli 2026 saat tidak sengaja tersangkut jaring ketika mencari ikan di sekitar Pulau Panjang. Alih-alih dibawa pulang, nelayan memilih melaporkannya kepada petugas.
Laporan itu langsung ditindaklanjuti Balai Pengelolaan Kelautan (Balai PK) Pontianak bersama dokter hewan dari Yayasan Sealife Indonesia. Penyu kemudian diserahkan secara sukarela untuk mendapatkan perawatan.
“Saat kami terima, kondisi penyu dipenuhi teritip,” kata Kasubbag Tata Usaha Balai PK Pontianak, Graziano Raymond, Rabu (22/7/2026).
Selama empat hari berikutnya, penyu menjalani rehabilitasi di Klinik Hewan Purnama. Tim dokter memastikan kondisi fisiknya benar-benar pulih sebelum kembali dilepas ke alam.
Dokter hewan Yayasan Sealife Indonesia, drh. Maulid Dio Sehendro, mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada patah tulang maupun gangguan pada organ dalam. Nafsu makan penyu juga baik dan kemampuan berenangnya terus membaik.
“Selama observasi kondisinya menunjukkan tren positif. Pola berenangnya normal, respons makan baik, dan iritasi pada kulit berangsur membaik sehingga layak dilepasliarkan,” ujar Dio.
Pelepasliaran dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalbar bersama Balai PK Pontianak dan Yayasan Sealife Indonesia menggunakan kapal pengawas perikanan BI’LAO 02.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran di perairan utara Jungkat memakan waktu sekitar satu setengah jam dari Pelabuhan Perikanan Sungai Rengas.
Kepala DKP Kalbar Natalia Karyawati mengatakan penyelamatan ini menjadi bukti bahwa kepedulian nelayan memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian satwa laut yang dilindungi.
“Ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu ekor penyu, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem laut. Kami berharap masyarakat pesisir terus melaporkan jika menemukan satwa dilindungi yang tidak sengaja tertangkap,” katanya.
Penyu sisik merupakan salah satu satwa laut paling langka di dunia. Spesies ini berstatus Critically Endangered atau kritis menurut IUCN dan dilindungi penuh di Indonesia.
Ancaman terbesar bagi populasinya berasal dari perdagangan ilegal, kerusakan habitat, dan tangkapan sampingan dalam aktivitas perikanan.











