banner 468x60
Aksara Warga

Tak Cukup Imbauan, LDII Dorong Warga Lawan Karhutla Lewat Reboisasi dan Konservasi Air

×

Tak Cukup Imbauan, LDII Dorong Warga Lawan Karhutla Lewat Reboisasi dan Konservasi Air

Sebarkan artikel ini

PONTIANAK – Upaya menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tak cukup hanya dengan imbauan. Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mendorong masyarakat terlibat langsung melalui penghijauan, reboisasi, konservasi air, hingga pemanfaatan lahan terbengkalai menjadi lahan produktif.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII, Dody Taufiq Wijaya, mengatakan persoalan lingkungan, termasuk karhutla, perlu menjadi perhatian bersama. Organisasi kemasyarakatan, kata dia, dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

“Kalau LDII untuk meng-address atau menjawab isu tersebut, kami ini organisasi kemasyarakatan Islam. Sifatnya mengimbau khususnya warga kita untuk melestarikan dan menjaga lingkungan, menanam pohon dan lain-lain,” kata Dody saat Ngopi Bareng Bang Ketua Umum DPP LDII bersama media di Pontianak, Rabu (23/9/2026).

Pertemuan tersebut digelar menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-8 LDII Kalbar yang dijadwalkan berlangsung Kamis (24/9/2026).

Dody mengatakan, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup disampaikan melalui dakwah secara lisan. LDII juga mendorong konsep dakwah bilhal, yakni menyampaikan nilai-nilai melalui tindakan nyata dan keteladanan di tengah masyarakat.

Karena itu, warga LDII di sejumlah daerah di Kalbar didorong melakukan penghijauan dan reboisasi. Lahan yang sebelumnya terbengkalai juga dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

“Di beberapa wilayah di Kalbar itu lahan gambut atau lahan terbengkalai menjadi lahan produktif. Itu yang kami manfaatkan, di samping juga menjaga hutan, menghutankan kembali, konservasi air dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut Dody, konservasi air menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau yang dapat meningkatkan risiko karhutla. Ketersediaan sumber air perlu dijaga agar masyarakat memiliki cadangan saat kondisi kering berkepanjangan.

Edukasi lingkungan juga dinilai perlu diberikan sejak usia dini. Anak-anak dan generasi muda, kata Dody, dapat dikenalkan dengan kegiatan menanam pohon dan tanaman produktif sehingga kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sebagai kebiasaan.

“Bagaimana kita mengedukasi generasi muda sejak dini untuk tetap menjaga dan melestarikan lingkungan. Diajari menanam pohon, diajari menanam tanaman-tanaman produktif,” katanya.

Selain ikhtiar di lapangan, LDII juga mendorong warga melakukan ikhtiar spiritual dengan melaksanakan salat istisqa untuk memohon hujan. Kegiatan tersebut telah dilakukan di sejumlah daerah sebagai respons terhadap kekeringan dan karhutla.

“Ini sudah kami lakukan di beberapa daerah untuk meminta rahmat dari Allah SWT untuk menurunkan hujan,” ujar Dody.

Ia menegaskan, pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Masyarakat tidak hanya perlu menjaga hutan, tetapi juga merawat sumber air, memperbanyak penghijauan serta menghindari aktivitas yang dapat merusak lingkungan.

“Di samping ikhtiar-ikhtiar fisik, menjaga lingkungan, konservasi air, terus juga menanam pohon, dan juga tidak melakukan hal-hal yang merusak hutan, apalagi pembakaran hutan,” tukasnya.