banner 468x60
Uncategorized

Harmoni di Bumi Khatulistiwa, PLH Kadisdikbud Kalbar: Imlek dan Cap Go Meh Jadi Simbol Persatuan Etnis

×

Harmoni di Bumi Khatulistiwa, PLH Kadisdikbud Kalbar: Imlek dan Cap Go Meh Jadi Simbol Persatuan Etnis

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, PONTIANAK – Perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh di Kalimantan Barat kembali menjadi sorotan dunia. Tak sekadar ritual keagamaan bagi warga Tionghoa, momentum ini dinilai sebagai festival budaya raksasa yang mampu merekatkan simpul toleransi antar-etnis di Bumi Khatulistiwa, 21 Maret 2026.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Barat, Sy. Faisal Indahmawan Alkadri, menyatakan bahwa keunikan perayaan Imlek di Kalbar sulit ditemukan di daerah lain. Hal ini dikarenakan adanya akulturasi budaya yang sangat kuat antara etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu.

“Imlek di Kalbar ini bukan hanya milik satu etnis. Kita bisa melihat bagaimana harmoni terjalin, di mana warga Dayak dan Melayu kerap terlibat aktif, baik sebagai penonton maupun pengisi acara dalam pawai-pawai besar,” ujar Faisal saat memberikan keterangan di Pontianak.

Faisal menekankan bahwa Kota Singkawang dan Pontianak tetap menjadi pusat gravitasi perayaan. Khusus Singkawang, kemeriahan Cap Go Meh telah diakui sebagai salah satu yang termegah di Asia Tenggara.

Aura kota yang berubah menjadi serba merah dengan ribuan lampion serta aroma khas hio (dupa) menciptakan atmosfer magis yang unik. “Ini adalah kekayaan budaya kita. Pemasangan lampion itu bukan sekadar hiasan, tapi simbol keberuntungan dan penerangan masa depan bagi kita semua,” tambahnya.

Filosofi di Balik Kuliner dan Tradisi

Lebih lanjut, Faisal menjelaskan bahwa aspek kebudayaan ini juga merasuk ke dalam sajian kuliner yang sarat makna. Beberapa hidangan khas seperti Kue Keranjang (Nian Gao), Jeruk Mandarin, Lapis Legit, hingga Choi Pan, memiliki filosofi mendalam tentang keeratan keluarga dan harapan rezeki yang berlapis-lapis.

“Kudapan seperti Choi Pan itu sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat kita. Saat Imlek, makanan ini menjadi simbol penyambung silaturahmi saat tradisi open house berlangsung,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Faisal menyoroti tradisi pembagian Angpao dan penghormatan kepada orang tua sebagai bentuk transfer energi positif dan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Ia berharap semangat Imlek di Kalbar terus menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bukanlah pemecah, melainkan kekayaan yang memperkokoh persatuan.

“Partisipasi pemuda Dayak atau Melayu yang menjadi pemain Barongsai atau pengawal naga adalah potret nyata toleransi yang harus terus kita jaga. Inilah wajah asli Kalimantan Barat,” pungkas Faisal.