banner 468x60
BeritaBudaya

Dari Sarang Kelulut ke Produk Kecantikan, Pertamina Bantu Petani Kubu Raya Tingkatkan Nilai Jual Madu

×

Dari Sarang Kelulut ke Produk Kecantikan, Pertamina Bantu Petani Kubu Raya Tingkatkan Nilai Jual Madu

Sebarkan artikel ini

KUBU RAYA – Madu kelulut yang selama ini dijual dalam bentuk mentah kini mulai diolah menjadi produk bernilai tambah.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Supadio membekali petani di Kabupaten Kubu Raya dengan keterampilan mengolah madu kelulut menjadi lip balm, membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal.

Pelatihan yang digelar pada 27–28 Juli 2026 itu diikuti anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Kuala Gambut Lestari di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya.

Program ini menjadi bagian dari upaya Pertamina mendorong hilirisasi hasil panen agar masyarakat tidak hanya menjual madu, tetapi juga mampu menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Jr. Supervisor HSSE & GA AFT Supadio, Fita Cahyang Wening, mengatakan pemberdayaan masyarakat tidak cukup berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga harus diikuti dengan pengembangan produk yang mampu bersaing di pasar.

“Selama dua hari kami memberikan pelatihan budidaya madu kelulut sekaligus pembuatan lip balm berbahan dasar madu kelulut. Harapannya masyarakat tidak hanya mampu memproduksi madu, tetapi juga mengembangkan produk turunannya sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujarnya.

Selain praktik membuat lip balm, peserta juga mendapatkan materi mengenai budidaya lebah madu kelulut, teknik pemijahan koloni, hingga cara panen yang baik agar produktivitas tetap terjaga.

Kepala Desa Kuala Dua, Abbas, menyambut baik program tersebut karena dinilai memberikan keterampilan baru yang dapat mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok tani yang mengelola kawasan perhutanan sosial.

“Pelatihan ini sangat baik karena memberikan keterampilan baru kepada masyarakat. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga,” katanya.

Bagi anggota KTH Kuala Gambut Lestari, pelatihan tersebut menjadi pengalaman baru. Selama ini madu kelulut hanya dipasarkan sebagai hasil panen, namun kini mereka mulai melihat peluang mengembangkannya menjadi produk kosmetik alami yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Perwakilan KTH Kuala Gambut Lestari, Agus Sudiro, mengatakan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan menjadi bekal penting bagi kelompoknya untuk mengembangkan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu.

“Selama dua hari kami belajar budidaya, teknik panen, pemijahan koloni hingga membuat lip balm dari madu kelulut. Ini menjadi bekal penting agar hasil panen petani tidak hanya dijual sebagai madu, tetapi juga bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Agus, inovasi produk turunan menjadi salah satu langkah strategis dalam memperluas pasar madu kelulut sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Melalui program ini, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Tidak hanya meningkatkan kapasitas petani, tetapi juga mendorong lahirnya usaha-usaha berkelanjutan yang mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.