Aksaraloka.com, PONTIANAK – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan anggapan bahwa kuku maupun sisik trenggiling memiliki manfaat untuk kesehatan hanyalah mitos.
Menurutnya, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim tersebut.
“Sebenarnya itu mitos. Sepanjang pengetahuan saya selama sekitar 10 tahun ini, belum ada hasil penelitian yang benar-benar menunjukkan sisik atau bagian tubuh trenggiling bisa menyembuhkan penyakit atau memiliki manfaat medis,” kata Murlan saat memberikan keterangan di Polresta Pontianak, Kamis (6/8/2026).
Murlan mengatakan berbagai referensi yang ia pelajari juga belum menemukan bukti ilmiah bahwa bagian tubuh trenggiling bermanfaat bagi kesehatan maupun keperluan medis lainnya.
“Kalau saya baca referensi, pada umumnya memang belum memiliki hasil yang menyatakan bermanfaat untuk kesehatan atau hal lainnya secara medis,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Murlan juga menyoroti besarnya dampak perdagangan ilegal sisik trenggiling terhadap populasi satwa dilindungi tersebut.
Ia menyebut, berdasarkan perhitungan umum, diperlukan sekitar lima ekor trenggiling untuk menghasilkan satu kilogram sisik.
“Kalau satu kilogram itu rata-rata berasal dari lima ekor trenggiling. Berarti kalau barang bukti yang diungkap mencapai 531 kilogram, tinggal dikalikan saja. Sekitar 2.600 ekor trenggiling menjadi korban. Ini jumlah yang luar biasa,” katanya.
Murlan mengapresiasi jajaran Polresta Pontianak yang berhasil mengungkap kasus perdagangan sisik trenggiling tersebut.
Menurutnya, pengungkapan ini menjadi langkah penting dalam upaya melindungi satwa liar yang dilindungi.
“Saya mengapresiasi Polresta Pontianak yang telah berhasil mengungkap kasus ini. Mudah-mudahan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersama-sama melestarikan satwa liar, khususnya trenggiling,” tutupnya.












