PONTIANAK – Penurunan jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat belum sepenuhnya menghilangkan kabut asap yang masih terasa di sejumlah wilayah.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menjelaskan, kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika cuaca dan pergerakan angin yang memengaruhi penyebaran asap.
Berdasarkan data BMKG yang disampaikan Norsan, arah angin saat ini bergerak dari wilayah selatan menuju utara dan melintasi Kalimantan Barat.
“Kabut asap masih terasa di lapangan. Kenapa langit kita masih berkabut?” kata Ria.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi karakteristik geografis sejumlah wilayah di Kalbar. Pontianak, misalnya, berada tepat di kawasan ekuator yang membuat pergerakan angin relatif lebih lambat.
“Dinamika cuaca ini diperberat oleh posisi geografis kota-kota kita, seperti Pontianak, yang tepat berada di ekuator. Hal ini membuat pergerakan angin relatif lebih lambat, sehingga kabut asap cenderung tertahan di wilayah kita,” ujarnya.
Meski demikian, Norsan menyebut kondisi karhutla di Kalbar menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data yang disampaikannya, saat ini tersisa 24 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terkonsentrasi di wilayah selatan Kalbar.
Penurunan tersebut, kata dia, tidak menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengurangi kesiapsiagaan. Sebab, asap masih terpantau di sejumlah wilayah dan kondisi cuaca masih dapat memengaruhi pergerakannya.
Karena itu, Pemprov Kalbar memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari ke depan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan dan pemantauan tetap berjalan sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali kebakaran.
“Perjuangan kita belum selesai,” tegas Ria.
Satgas darat tetap melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan. Sementara itu, dukungan operasi udara dipertahankan sesuai kondisi dan kelayakan operasional.
Ria juga mengapresiasi kerja Satgas Karhutla, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta masyarakat yang selama ini terlibat dalam penanganan karhutla.
Menurutnya, pemantauan berkelanjutan dan koordinasi antarpihak mulai menunjukkan hasil dalam menekan titik panas.
“Melalui pemantauan berkelanjutan dan koordinasi yang terus diperkuat, kerja keras kita di lapangan mulai membuahkan hasil,” ujarnya.
Namun, ia meminta masyarakat tidak lengah dan menghindari aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu munculnya titik api baru.
“Mari terus bersinergi, saling menjaga kesehatan, dan hentikan segala bentuk pembakaran lahan,” kata Ria.

















