PONTIANAK – Berawal dari eksperimen sederhana di rumah saat pandemi COVID-19, dua sahabat, Shasa dan Shawn Jeremy Liem, berhasil menciptakan minuman gin premium berbasis rempah khas Indonesia bernama Saka Gin.
Ide meracik minuman beralkohol itu muncul dari rasa penasaran sekaligus kecintaan mereka terhadap gin.
Tanpa latar belakang sebagai peracik profesional, keduanya belajar secara otodidak melalui platform seperti YouTube, membeli peralatan dari marketplace, lalu mulai bereksperimen di rumah.
Setiap pekan, mereka menciptakan hingga empat resep berbeda, melakukan uji rasa, kemudian memilih formulasi terbaik. Proses trial and error tersebut berlangsung hampir dua tahun.
“Setiap minggu kami evaluasi, voting, lalu kami perbaiki lagi,” ujar Shasa saat acara Saka Gin Gathering di The Roof Pontianak, Jumat (25/4/2026).
Perjalanan mereka tidak selalu mulus. Pada tahap awal, mereka sempat menggunakan pandan sebagai bahan utama, namun hasilnya belum sesuai harapan. Dengan mengandalkan insting dan pengalaman sebagai penikmat minuman, mereka terus menyempurnakan racikan hingga menemukan komposisi yang dianggap ideal.
Setelah formulasi matang, langkah berikutnya adalah produksi. Mereka kemudian bekerja sama dengan mitra di Bali untuk merealisasikan gin yang kini dikenal sebagai Saka.
Mengusung konsep premium, Saka Gin memadukan rempah lokal seperti kapulaga dan kayu manis dengan elemen botani dari luar negeri. Kombinasi tersebut menghasilkan karakter rasa yang kompleks dan berlapis.
“Kami ingin menciptakan rasa yang berbeda, bukan sekadar meniru produk luar. Justru kami ingin orang luar mencari cita rasa khas Indonesia,” kata Shawn Jeremy Liem.
Tantangan berikutnya muncul pada aspek desain dan produksi. Upaya awal mendesain kemasan sendiri belum memenuhi ekspektasi, hingga akhirnya mereka menggandeng desainer asal Australia untuk menciptakan identitas visual yang lebih kuat dan eksklusif.
Selain itu, proses produksi juga menghadapi kendala teknis, mulai dari botol custom hingga kualitas tutup botol (cork). Namun, hambatan terbesar justru datang dari persepsi pasar terhadap produk lokal.
“Masyarakat masih menganggap produk Indonesia harus murah, padahal kami ingin mengubah pola pikir itu,” ujarnya.
Untuk membangun kepercayaan, mereka aktif mengikuti berbagai ajang dan memperkenalkan produk ke pasar premium, khususnya di Jakarta yang dianggap sebagai barometer industri gaya hidup.
Kini, fokus utama Saka Gin masih pada pasar domestik, dengan harapan dapat memperkuat posisi di dalam negeri sebelum menembus pasar global.
“Produk Indonesia harus dibanggakan oleh orang Indonesia dulu. Dari situ, baru bisa dikenal dunia,” tutupnya.










