Aksaraloka.com, PONTIANAK– Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Kalimantan Barat. Mantan Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) dua periode (2011-2019), Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA, dikabarkan telah berpulang ke Rahmatullah, 14 April 2026.
Kepergian tokoh akademisi yang dikenal luas karena kecerdasan dan keramahannya ini menyisakan kesedihan mendalam bagi banyak pihak, termasuk jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, S.STP, MM, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya sang profesor.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami sekeluarga besar Disdikbud Kalbar turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Prof. Thamrin Usman. Beliau adalah sosok pendidik sejati yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Bumi Khatulistiwa,” ujar Faisal.
Menurut Faisal, dedikasi almarhum selama menjabat sebagai Rektor Untan telah membawa perubahan besar bagi kualitas pendidikan tinggi di Kalbar. Warisan pemikiran dan semangat beliau dalam mencetak generasi intelektual akan selalu menjadi inspirasi.
“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafannya, dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan keikhlasan dalam menghadapi ujian ini,” pungkasnya.
Lanjut Faisal, gari ini, Kalimantan Barat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Seorang ilmuwan yang tidak hanya berbicara dengan teori, tetapi bekerja dengan hati. Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA, bukan sekadar nama dalam daftar akademisi; beliau adalah simbol kegigihan intelektual dan ketulusan dalam membimbing.
“Sebagai tokoh pendidikan, beliau telah menanam benih-benih kecerdasan di ribuan pikiran mahasiswa. Sebagai cendekiawan, beliau mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah mahkota tertinggi bagi pemilik ilmu,” ungkap Faisal.
Faisal mengajak untuk terus melanjutkan semangat literasi dan dedikasi yang pernah almahrum contohkan. Karena sejatinya, seorang pendidik tidak pernah benar-benar pergi, ia terus hidup melalui setiap ilmu yang diamalkan oleh murid-muridnya.

















