KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali memakan korban jiwa. Seorang warga bernama Taufik dilaporkan meninggal dunia setelah diduga pingsan akibat kekurangan oksigen di tengah kepungan asap sebelum akhirnya tubuhnya terbakar.
Kepala BPBD Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan hingga Rabu (5/8/2026), kebakaran di sejumlah titik masih belum berhasil dikendalikan. Tim gabungan yang melakukan pemadaman bahkan baru kembali dari lapangan sekitar pukul 04.00 WIB dan kembali diterjunkan pada pukul 07.30 WIB.
“Tim pengendalian karhutla baru pulang sekitar jam 4 subuh. Jam 07.30 WIB tadi mereka sudah bergeser lagi ke lokasi. Artinya kondisi terkini karhutla memang belum dapat dikendalikan,” ujar Yunifar.
Berdasarkan dugaan sementara, korban nekat menerobos kawasan yang dipenuhi kabut asap saat hendak pulang. Kondisi minim oksigen diduga membuat korban kehilangan kesadaran di pinggir jalan yang diapit kobaran api.
“Korban diduga menerobos kabut asap karena ingin cepat pulang. Kemungkinan kekurangan oksigen hingga pingsan. Di sisi kiri dan kanan jalan ada api, sehingga beliau terjatuh dan akhirnya meninggal dalam keadaan terbakar,” jelasnya.
Selain korban meninggal dunia, BPBD mencatat sedikitnya dua warga lainnya terdampak kebakaran hingga dini hari. Salah satunya merupakan seorang lanjut usia yang telah dievakuasi ke RSUD dr. Agus Djam Ketapang untuk mendapatkan penanganan medis.
Yunifar mengungkapkan, salah satu lokasi kebakaran terparah berada di Desa Pelang dengan luas lahan terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 40 hektare.
Menurutnya, proses pemadaman masih menghadapi kendala klasik berupa minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Ia menilai kondisi karhutla tahun ini juga lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat, BPBD mengandalkan operasi water bombing. Metode tersebut dinilai efektif, terutama di kawasan yang tidak memiliki sumber air. Namun, keberadaan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran kerap menjadi hambatan dalam pelaksanaan pengeboman air.
BPBD berharap helikopter water bombing dan patroli udara dapat disiagakan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang sehingga respons terhadap kebakaran dapat dilakukan lebih cepat.
Sementara itu, berdasarkan data BMKG, jumlah titik panas di Kalimantan Barat terus meningkat hingga menembus lebih dari 100 titik. BPBD menyebut hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Ketapang kini memiliki titik kebakaran yang sebagian besar diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan pada musim kemarau.











