banner 468x60
Sintang

Gelar Operasi Bibir Sumbing Gratis di Sintang, Korem 121/ABW Beri Harapan Baru pada 32 Pasien

×

Gelar Operasi Bibir Sumbing Gratis di Sintang, Korem 121/ABW Beri Harapan Baru pada 32 Pasien

Sebarkan artikel ini

Aksaraloka.com, SINTANG – Sebanyak 32 pasien di Kabupaten Sintang mendapat kesempatan menjalani operasi bibir sumbing dan celah langit-langit secara gratis. Kegiatan bakti sosial ini digelar Korem 121/Alambhana Wanawwai (Abw) bekerja sama dengan Smile Train Indonesia dan tim medis HSR RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Pelayanan sosial tersebut dilaksanakan di Rumah Sakit Tingkat IV Pratama Sintang, Selasa (18/8/2026), sebagai bagian dari rangkaian Karya Bakti Skala Besar TNI Angkatan Darat di wilayah Kodam XII/Tanjungpura, yang mencakup Kabupaten Sintang, Sanggau, dan Bengkayang.

Turut hadir Ketua dan Tim Smile Train Jakarta Mayjen (Purn) dr. Budiman dan Mayjen (Purn) dr. Asrofi Surachman, Kasrem 121/Abw Kolonel Inf Dadang Ismail Marzuki, Dandenkesyah Letkol Ckm Cipto Danu Susilo Maruto, Dandim 1205/Sintang Letkol Arm Anggit Wijaksono, unsur Forkopimda Sintang, dokter, tenaga kesehatan, panitia, serta orang tua dan keluarga pasien.

32 Pasien Jalani Pemeriksaan dan Verifikasi Medis

Kasrem 121/Abw Kolonel Inf Dadang Ismail Marzuki mengatakan, seluruh pasien yang mendapatkan penanganan telah melalui proses pendataan, pemeriksaan, dan verifikasi medis.

“Untuk saat ini ada 32 pasien yang bisa kita tangani. Tentunya semua melalui proses verifikasi terlebih dahulu,” kata Dadang.

Menurutnya, operasi bibir sumbing tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan dan kepercayaan diri pasien.

Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan di Sintang apabila masyarakat yang membutuhkan penanganan dapat terus didata dan dihimpun.

Bupati Sintang: Ini Bukan Sekadar Operasi

Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala mengapresiasi kolaborasi antara TNI AD, Smile Train Indonesia, dan tenaga medis dalam memberikan layanan gratis kepada masyarakat.

Menurutnya, bagi sebagian orang kondisi bibir sumbing mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana. Namun, bagi anak-anak yang mengalaminya, dampaknya dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan.

Mulai dari kesulitan berbicara, berkomunikasi, bersosialisasi hingga persoalan kepercayaan diri.

“Mereka bisa merasa minder, tidak percaya diri. Bahkan ada huruf atau kata-kata tertentu yang sulit diucapkan,” ujar Gregorius.

Karena itu, ia menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar memberikan tindakan operasi.

Lebih dari itu, operasi menjadi jalan untuk menghadirkan harapan baru sekaligus mengembalikan kepercayaan diri anak-anak yang selama ini hidup dengan kondisi tersebut.

“Hal ini tidak bisa dilihat dan tidak bisa dinilai dengan angka. Tetapi dampaknya bagi kehidupan mereka sangat besar,” katanya.

Bupati juga meminta pemerintah desa bersama jajaran kesehatan untuk aktif melakukan pendataan terhadap warga yang membutuhkan penanganan operasi bibir sumbing maupun celah langit-langit.

Smile Train Bantu Lebih dari 125 Ribu Operasi di Indonesia

Country Manager and Program Director Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, mengatakan Smile Train merupakan organisasi amal internasional yang berdiri sejak 1999 dan kini telah hadir di 85 negara.

Di Indonesia, Smile Train mulai beroperasi sejak 2002. Hingga Maret 2026, organisasi tersebut telah membantu lebih dari 125 ribu operasi bibir sumbing dan celah langit-langit bagi anak-anak Indonesia.

Saat ini, Smile Train juga bekerja sama dengan lebih dari 180 dokter di Indonesia, khususnya dokter spesialis bedah plastik.

Kerja sama dengan TNI AD sendiri telah berlangsung sejak 2014. Dalam program tersebut, Babinsa turut membantu menemukan dan menghimpun data masyarakat yang membutuhkan layanan operasi.

“Setiap bulan Smile Train Indonesia menerima sekitar 800 permohonan bantuan operasi dari seluruh Indonesia,” ungkap Deasy.

Ia berharap masyarakat dan media dapat ikut menyebarluaskan informasi mengenai layanan tersebut agar semakin banyak keluarga mengetahui adanya program operasi gratis.

“Anak-anak Indonesia sangat menantikan kehadiran kita untuk sama-sama mewujudkan impian mereka,” katanya.

Tidak Semua Pasien Bisa Langsung Dioperasi

Ketua tim medis Mayjen (Purn) TNI Dr. dr. Asrofi Sueb bersama Mayjen (Purn) TNI dr. Budiman, Sp.BP-RE(K), MARS, MH menjelaskan bahwa penanganan pasien bibir sumbing tidak selalu selesai dalam satu kali tindakan operasi.

Pada sejumlah pasien, kondisi sumbing juga dapat terjadi pada bagian gusi hingga langit-langit mulut sehingga membutuhkan penanganan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing pasien.

Operasi bibir sumbing idealnya dilakukan sejak usia dini dengan mempertimbangkan berat badan dan kondisi kesehatan pasien. Sementara operasi celah langit-langit dilakukan pada tahap berikutnya sesuai perkembangan pasien.

Tim medis juga menekankan pentingnya pemantauan pascaoperasi agar pasien dapat memperoleh penanganan lanjutan apabila dibutuhkan.

Selain tindakan operasi, Smile Train menyediakan program pendampingan lanjutan seperti terapi bicara, edukasi, dan pendampingan nutrisi.

Dalam kegiatan tersebut, terdapat pula pasien yang belum dapat menjalani operasi karena berat badannya belum memenuhi persyaratan medis.

Keluarga Pasien Terharu: Hanya Tuhan yang Bisa Membalas

Perasaan haru disampaikan Paulus Mayung, perwakilan keluarga pasien. Ia mengucapkan terima kasih kepada Korem 121/Abw, Smile Train Indonesia, dan seluruh tenaga medis yang telah memberikan pelayanan secara gratis.

Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti, terutama bagi keluarga pasien yang memiliki keterbatasan ekonomi.

“Mewakili para orang tua, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Komandan Korem 121/Abw yang telah memfasilitasi kegiatan ini,” ujarnya.

Paulus mengaku keluarga pasien tidak mampu membalas seluruh kebaikan yang telah diberikan oleh semua pihak.

“Kami tidak bisa membalas budi baik Bapak dan Ibu semua. Hanya Tuhan yang bisa membalas semuanya,” kata Paulus.

Ia berharap kegiatan sosial tersebut dapat terus berlanjut dan membawa manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Semoga kegiatan ini membawa keberkahan kepada kita semua. Jaya dan sukses selalu untuk TNI dan Smile Train,” pungkasnya.

Kegiatan operasi bibir sumbing dan celah langit-langit gratis ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kali ini. Sinergi antara TNI AD, pemerintah daerah, Smile Train Indonesia, dan tenaga medis menjadi upaya nyata dalam membuka akses layanan kesehatan bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar operasi, program ini diharapkan mampu memberikan harapan baru bagi anak-anak untuk tumbuh lebih sehat, berbicara lebih baik, dan menatap masa depan dengan kepercayaan diri.