banner 468x60
INFO PEMPROV KALBAR

PLB Temajuk Kembali Dibuka, Gerbang Baru Ekonomi dan Pariwisata Perbatasan

×

PLB Temajuk Kembali Dibuka, Gerbang Baru Ekonomi dan Pariwisata Perbatasan

Sebarkan artikel ini

SAMBAS – Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk kembali diaktifkan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melihat pembukaan jalur Temajuk–Teluk Melano bukan sekadar menghidupkan kembali akses perlintasan Indonesia–Malaysia, tetapi sebagai momentum membuka gerbang baru ekonomi, pariwisata, dan hubungan masyarakat di kedua sisi perbatasan.

Soft launching reaktivasi PLB Temajuk digelar di halaman PLB Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Jumat (21/8/2026). Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan hadir bersama Sekretaris BNPP Komjen Pol Makhruzi Rahman, Sekda Kalbar Harisson, Bupati Sambas Satono, Wakil Bupati Sambas Heroaldi Djuhardi Alwi, serta jajaran Forkopimda dan instansi terkait.

Kegiatan juga dirangkaikan dengan penanaman pohon di kawasan PLB Temajuk.

Krisantus mengatakan, reaktivasi PLB mengubah cara pandang terhadap Temajuk. Kawasan yang selama ini kerap dianggap sebagai wilayah paling ujung Indonesia, kini didorong menjadi beranda depan negara.

“Temajuk adalah bagian dari wajah Indonesia yang berhadapan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Karena itu, reaktivasi PLB ini bukan sekadar membuka kembali jalur perlintasan, tetapi menegaskan kehadiran negara sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat di kawasan perbatasan,” ujar Krisantus.

Menurutnya, pembukaan kembali jalur Temajuk–Teluk Melano merupakan hasil koordinasi panjang lintas sektor, mulai dari BNPP, forum Sosial Ekonomi Malaysia–Indonesia (Sosek Malindo), hingga pembahasan dalam Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia–Malaysia.

Kehadiran jalur resmi juga memberikan kepastian bagi aktivitas lintas batas. Pelayanan dilakukan dengan melibatkan unsur CIQS atau Customs, Immigration, Quarantine and Security, sehingga perlintasan orang dan barang dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan tercatat.

Kondisi tersebut sekaligus diharapkan mempersempit ruang bagi aktivitas ilegal, termasuk penyelundupan barang dan perlintasan orang tanpa dokumen.

Namun, bagi Pemprov Kalbar, manfaat PLB Temajuk tidak berhenti pada fungsi perlintasan.

Krisantus menyebut pemerintah telah mengusulkan peningkatan status Temajuk dari Pos Lintas Batas Tradisional menjadi Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Peningkatan status tersebut dinilai penting karena dapat menjadi pemicu percepatan pembangunan infrastruktur dasar di kawasan perbatasan.

“Di berbagai wilayah, kehadiran PLBN dapat menjadi pemicu percepatan pembangunan infrastruktur, seperti jalan, listrik, air bersih, dan telekomunikasi,” katanya.

Temajuk juga diproyeksikan menjadi kawasan ekonomi baru. Akses lintas batas yang kembali terbuka dinilai dapat memperluas pasar bagi perdagangan, sektor jasa, serta pelaku UMKM di Kecamatan Paloh.

Pemerintah bahkan tengah mendorong usulan pengembangan kawasan tersebut sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor pariwisata.

Potensi wisata menjadi salah satu alasan kuat reaktivasi PLB Temajuk mendapat perhatian besar. Pantai Temajuk hingga kawasan Tanjung Datu dinilai memiliki daya tarik yang dapat dikembangkan untuk menarik wisatawan, termasuk dari Sarawak.

“Dengan terbukanya akses jalan Teluk Atong–Temajuk dan aktifnya kembali pos lintas batas, peluang wisatawan mancanegara, khususnya dari Sarawak, untuk berkunjung ke Temajuk semakin terbuka,” ujar Krisantus.

Arus wisatawan, kata dia, berpotensi menciptakan efek ekonomi berantai. Penginapan, kuliner, transportasi, jasa wisata hingga UMKM masyarakat lokal dapat ikut tumbuh seiring meningkatnya kunjungan.

“Ini adalah magnet ekonomi baru yang dapat menggerakkan masyarakat. Mari kita jadikan momentum ini sebagai awal, bukan akhir. Awal dari babak baru Temajuk sebagai gerbang ekonomi, gerbang pariwisata, dan gerbang persahabatan Indonesia–Malaysia,” tegasnya.

Ia berharap pengembangan Temajuk tidak berhenti pada pembangunan fasilitas perlintasan. Kawasan tersebut harus diarahkan menjadi simpul pertumbuhan baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan.

Di sisi lain, reaktivasi PLB juga memiliki dimensi sosial dan budaya. Masyarakat Temajuk dan Teluk Melano memiliki kedekatan sejarah, bahasa, budaya, hingga hubungan kekerabatan yang telah berlangsung turun-temurun.

“PLB Temajuk bukan hanya tentang ekonomi. Ini juga tentang kemanusiaan, sosial budaya, dan hubungan persaudaraan. Kita ingin masyarakat Temajuk dan Teluk Melano dapat kembali berinteraksi melalui jalur resmi, aman, tertib, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” pungkasnya.

Reaktivasi PLB Temajuk pun membawa pesan yang lebih besar: perbatasan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai garis terluar negara, tetapi sebagai ruang pertemuan yang dapat menghubungkan masyarakat, membuka pasar, dan menggerakkan ekonomi.

Temajuk kini punya pintu yang kembali terbuka. Tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat menjadikannya pintu masuk menuju pertumbuhan baru Kalimantan Barat.